Versi cetak

Selasa, 03 Januari 2006 04.36

Sekelumit Catatan Kopdar #1

— Dari Angkasa ke Bumi

Satellite-Radio
Satellite Radio
boeing.com

Sore tanggal 30 Desember 2005 itu saya datang ke Lapo Ni Tondongta di Jalan Sabang, Jakarta, untuk menghadiri pertemuan anggota mailing list (milis) gkps. Persis di ruang yang sama dengan yang pernah digunakan oleh anggota milis HKBP bertemu muka pada tanggal 10 September 2005 lalu.

Baru beberapa menit menghempaskan bokong saya ke kursi, Martin (Pdt. Martin Lukito Sinaga) mengajukan pertanyaan, "Dari mana istilah kopdar?"

Sudah cukup lama istilah kopdar menjadi idiom yang lazim digunakan untuk menamai perjumpaan muka temu muka para anggota forum diskusi di internet. Namun, istilah yang sudah memasyarakat itu kerap tidak lagi diketahui asal-muasalnya. Entah siapa pula yang pertama kali menggunakan istilah itu bagi ajang silaturahmi fisikal para internauts (salah satu istilah favorit saya sebagai sinonim netters, karena mengingatkan pada pengembara ruang angkasa astronaut dan cosmonaut).

Kopdar yang merupakan akronim dari kopi darat amat populer sekitar tahun 70-an ketika radio amatir [yang tanpa lisensi alias radio gelap] marak di kalangan kawula muda, bahkan di kota kecil tempat kelahiran saya. Pada masa itu, menjadi penggiat bincang-bincang di udara melalui gelombang radio frekuensi 100 meter merupakan semacam salah satu ciri generasi gaul.

Memiliki pemancar sendiri tidaklah mudah. Selain sudah pasti akan repot merangkai perangkat pemancar-penerima (transmitter-receiver/transceiver) dan mendirikan antena yang menjulang sekian puluh meter, tentunya juga diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk ukuran pelajar di masa itu.

Belum lagi jika terkena risiko sweeping (penertiban frekuensi) yang dilakukan oleh aparat pemerintah. Namanya saja radio gelap, tentunya harus kucing-kucingan dengan aparat institusi yang merasa berhak menjadi penguasa udara. Oleh sebab itu, sekedar menumpang cuap-cuap di depan mikropon pemancar kawan pun rasanya sudah cukup bergaya.

Banyak hal bisa terjadi melalui komunikasi radio semacam itu. Mulai dari diskusi serius yang berat, sekedar ngobrol, mendapat kawan baru, konsultasi segala macam, mencari jodoh, bahkan berkelahi dengan penuh caci-maki, ataupun omongan yang berbau-bau seks.

Melalui perbincangan verbal melalui gelombang radio tersebut, lalu muncullah bermacam kelompok/komunitas yang didasarkan pada kesamaan tertentu. Entah itu minat/hobby, latar belakang sekolah atau daerah asal, maupun alasan lain yang kadang-kadang tanpa alasan jelas :-). Pokoknya asal bisa berkomunikasi.

Masing-masing kelompok biasanya memiliki nama tertentu. Demikian juga dengan para anggotanya, biasanya memiliki nama alias (callsign) yang unik. Bisa keren, bisa lucu, bisa juga norak.

Situasi yang terbangun persis seperti yang terjadi di dunia maya internet. Perbincangannya kadang simpang-siur, kadang demikian serius, kadang sambil lalu, kadang gaduh, kadang sepi bak kuburan, kadang menyenangkan, kadang menyebalkan, kadang mengharukan. Campur-baur dan merdeka.

Pengalaman yang tidak menyenangkan adalah ketika Ketua RT menggedor pintu karena terjadi kebocoran (splatter) pada gelombang radio sehingga suara kami muncul di TV tetangga. Jelas kesallah mereka karena gerakan bibir aktor di TV berbeda dengan dubbing suara kami. Lebih kacau lagi kalau gambar di TV menampilkan acara keagamaan tetapi suara yang muncul dari speaker TV agak seronok topiknya. (Untung dulu belum musimnya tudingan penodaan agama :-).)

Salah satu istilah komunikasi yang kerap digunakan adalah copy. Misalnya, "Apakah bisa di-copy?" Tentunya yang dimaksud bukanlah disalin atau difotokopi, melainkan diterima/didengar. Maklumlah, kadang-kadang suara kresek-kresek mengganggu komunikasi antar pemancar yang berjauhan akibat daya pemancar yang memang tidak besar. Atau juga akibat suara yang kurang jelas, hilang-timbul seperti yang kerap terjadi pada telpon selular saat sinyal lemah.

Selain itu, istilah tersebut juga dimaksudkan untuk melakukan konfirmasi apakah ucapan kita bisa dipahami pihak lain. Persis seperti yang ditampilkan para operator radio dalam film-film.

Istilah lain yang sejenis untuk maksud serupa adalah roger (diucapkan: rojer), sehingga kerap juga dilontarkan ucapan seperti "Bisa di-roger?" dan "Oke. Roger".

copy — indication of how well communications are received. "I have a good copy on you" also used as a question, as in "did you copy" - understand all"
roger — I understand

http://www.ac6v.com/jargon.htm

Dari situlah kemudian lahir istilah kopi darat yang kurang-lebih bermakna mendaratkan/membumikan perjumpaan dari hanya tukar suara melalui gelombang radio di udara ke perjumpaan secara fisikal di bumi. Hal itu bisa dilakukan oleh satu pribadi dengan pribadi lain ataupun sekelompok orang sekaligus.

Hasilnya pun sangat beragam. Ada yang memang hanya sekadar melampiaskan rasa penasaran melihat wajah orang yang selama ini hanya dikenali melalui suara dan callsign saja, ada yang sekedar bersilaturahmi ataupun hura-hura, ada juga yang sifatnya serius sehingga komunitas tersebut terus bergulir menjadi komunitas sosial yang cukup solid dan langgeng dengan berbagai program kegiatannya, ada juga yang akhirnya bertransformasi menjadi pemancar radio komersial seperti Prambors. Dan tentu saja tidak ketinggalan pula mereka yang akhirnya menemukan pasangan hidupnya.

Sangat boleh jadi kemiripan komunitas maya di internet seperti mailing list itulah yang menyebabkan istilah kopdar mudah diterima dengan pengertian yang sama dengan yang berlaku di kalangan penggemar radio amatir. Diterima tanpa reserve, taken for granted.

Sudah amat lama saya tidak menggauli dunia radio amatir. Barangkali saat ini tidak terlalu banyak lagi komunitas radio bawah tanah yang berlandaskan hobby seperti masa lalu. Apalagi setelah berdiri organisasi yang [konon bermaksud] memayungi mereka seperti ORARI, RAPI, KRAP, dan entah apa lagi.

Yang jelas, era pemancar rakitan dengan tabung-tabung dioda dan antena menjulang sudah digeser oleh perangkat semacam CB (citizen's band) yang jauh lebih ringkas dan canggih. Dan nama-nama seru seperti Breaker Edan, Capung Ngapung, Mawar Biru, Biang Virus, dan sebagainya pun sudah berganti dengan callsign resmi internasional yang mirip nomor narapidana yang terdiri dari huruf dan angka semacam YBØXYZ. Serasa ada kehangatan yang sedikit pupus.

Break! Break!
Calling CQ! Calling CQ!
Hotel Oscar Romeo Alpha Sierra.
10-24.

— Beth: Selasa, 03 Januari 2006 04:36

0 tanggapan:

# catatan kaki