Versi cetak

Minggu, 14 September 2008 15.27

The Godfather

— Mitra Keluarga

GodFather
Godfather
thegodfathertrilogy.com

Tidak banyak film yang memiliki kekuatan sedemikian hingga mampu memosisikan diri sebagai legenda yang bertahan sampai sekian masa mendatang, melampaui kemampuan bertahan fisik maupun kilau ketenaran para pemerannya. Lebih sedikit lagi film yang karakter tokohnya sedemikian kuat sehingga kerap diasosiasikan secara langsung dengan pemerannya.

The Godfather (1972) besutan sutradara Francis Ford Coppola yang diangkat dari novel karya Mario Puzo adalah salah satu contoh terbaik (meski ada sigi yang menyatakan bahwa film ini adalah legenda nomor dua setelah Citizen Kane). Dalam hal ini, Marlon Brando adalah sang Godfather. Sehingga, meski sudah memiliki generasi penerus, tak seorang pun yang sanggup menggeser karisma Brando yang memerani Don Vito Corleone. Tidak Robert de Niro (Vito Corleone muda), tidak Al Pacino (Michael Corleone), tidak pula Andy Garcia (Vincent Mancini, yang diharapkan menjadi suksesor Michael Corleone). Padahal, mereka semua adalah aktor-aktor besar, bukan aktor kacangan ataupun pendatang baru. Godfather tetap saja dipandang identik dengan Brando dan demikian pula sebaliknya.

Sebenarnya bukan soal film yang hendak saya bicarakan saat ini, melainkan soal istilah Godfather. Bagi kalangan mafia, Godfather adalah sosok bapak dan tuan yang punya kuasa memberi jaminan perlindungan dan pemeliharaan dalam segala hal bagi seseorang yang menyerahkan diri, menyatakan kesetiaan penuh, dan taat mutlak kepada sang penguasa. Hal ini terus berlaku selama orang itu tidak melanggar sumpahnya dan tidak menciderai hubungan kekeluargaan kelompok tersebut. Ibarat Faust dalam novel Goethe yang menjalin transaksi dengan Mephisto sang Iblis, perjanjian dengan sang penguasa dan keluarga besar mafia tersebut pun akan terus mengikat hingga putus napas.

Orang yang masuk dan diterima oleh keluarga mafia memiliki kewajiban berbakti pada keluarga mafia tanpa banyak hitungan. Semua yang diperintahkan atasannya, apalagi jika sang pemimpin sendiri yang menyampaikannya, dipandang sebagai kewajiban yang tidak boleh dipertanyakan apalagi ditolak. Di sisi lain, sang pemimpin wajib memfasilitasi kebutuhan hidup orang tersebut berikut keluarganya. Dalam hal ini, selain yang berurusan dengan persoalan ekonomi, juga perlindungan dari berbagai ancaman hukum maupun fisik.

Begitulah kontrak idealnya. Tetapi, pada kenyataannya, ada saja anggota yang berkhianat maupun pemimpin yang tidak menganggap anggotanya lebih berharga dibanding kepentingan sang pemimpin ataupun keluarga walau orang itu tidak melanggar perjanjian :-(.

Bisa jadi akibat kesuksesan film tersebut maka istilah Godfather jadi melekat pada dan langsung diasosiasikan dengan pemimpin mafia di Amerika (yang acapkali disamakan begitu saja dengan gangster). Sementara, sewaktu kecil dan belum mengenal yang disebut mafia, saya menyangka bahwa Godfather adalah sebutan untuk Allah Bapa berdasarkan penerjemahan secara literal.

Padahal, istilah tersebut bukan diinisiasi oleh para mafiosi, melainkan diadopsi dari lingkup Gereja Katolik Roma, yakni sebutan yang diberikan kepada orang yang menjadi Bapa Baptis (Bapa Serani) seseorang yang menerima baptisan. Penggunaan istilah ini oleh kalangan mafia bisa dimaklumi jika kita menilik latarbelakang agama mereka yang bercikal-bakal dari Italia (lebih tepatnya lagi: kawasan Sisilia).

Baptis bagi umat Katolik [dan Kristen pada umumnya] merupakan inisiasi memasuki keluarga Allah dan terikat perjanjian kekal dengan-Nya. Memang mirip dengan masuknya seseorang ke dalam lingkaran keluarga mafia, yang penyerahan diri dan sumpah setianya menjadi tanda "pembaptisan" yang dimeteraikan dengan mencium cincin sang Don (mirip dengan umat Katolik yang mencium cincin Uskup atau Paus :-) ).

Dalam prosesi Sakramen Baptis di Katolik —khususnya yang dilayankan pada anak kecil— orangtua sang anak tidak menjalaninya sendirian, melainkan didampingi pasangan suami-istri yang bertindak sebagai Orangtua Baptis (Godparent: Godfather dan Godmother) bagi sang anak (disebut Godchild, Godson atau Goddaughter). Keberadaan dan status mereka dicatat secara resmi dalam surat baptis yang diterbitkan oleh gereja.

Saya yakin ada peran khusus bagi mereka yang dipandang penting oleh gereja. Kalau tidak, untuk apa repot-repot membuat skenario semacam itu? Menurut penjelasan Bapak saya, sejatinya mereka akan berperan sebagai orangtua juga bagi sang anak, yang mendampingi orangtua kandungnya dalam banyak hal, bukan hanya dalam hal-hal yang bersifat kerohanian melainkan juga hingga ke masalah kebutuhan fisikalnya. Persis seperti orangtua kandung, kecuali dalam hal-hal yang benar-benar menjadi urusan dan kewenangan khusus keluarga asli. Maka, Bapak saya menyatakan adalah keterlaluan jika Orangtua Baptis tidak ingat tanggal lahir Anak Baptisnya.

Pendeknya, Orangtua Baptis berkewajiban memantau dan mengikuti perkembangan sang anak serta terlibat sebagai mitra orangtua kandung dalam membekali seorang manusia baru memasuki dunianya sendiri. Secara sepintas terlihat bahwa hal ini memberikan banyak dukungan positif bagi semua pihak apabila masing-masing pelaku menjalankan perannya sesuai dengan proporsinya.

Pengandaian itulah yang sempat melintas di benak saya tatkala menghadiri prosesi pembaptisan anak teman Riris di GKI Kebayoran Baru pagi tadi. Dua anaknya dibaptis berbarengan. Dan yang membawa mereka maju ke altar hanyalah ibunya saja sebab ayah mereka sudah meninggal beberapa bulan yang lalu akibat kanker. Ketika kami memberikan selamat di pintu keluar gereja, sang ibu nyaris tidak bisa membendung airmata karena terkenang pada almarhum suaminya yang tidak ada di sisinya pada momen bersejarah tersebut.

Mengapa saya harus berandai-andai? Apakah tanpa Orangtua Baptis maka sang ibu tidak akan mampu menjaga dan memelihara anak-anaknya? Tidak. Sama sekali tidak! Bukan itu maksud saya. Ada banyak bukti nyata bahwa orangtua tunggal tidaklah identik dengan ketidakmampuan mengurus anak dan keluarga. Sebaliknya, tidak sedikit anak-anak dari keluarga semacam itu yang malah berhasil dalam hidupnya.

Namun, di sisi lain, merupakan sebuah kewajaran jika seorang manusia memerlukan orang lain yang bersedia diajak bicara tentang hal-hal yang sangat pribadi dan peka, yang tidak perlu diketahui orang lain. Itu sebabnya anak-anak muda umumnya memiliki sobat untuk curhat, suami memiliki istri dan sebaliknya, yang pada dasarnya memiliki kepentingan yang sama terhadap persoalan yang dibahas atau memiliki saling ketergantungan satu terhadap yang lain.

Tetapi, kepada siapakah seorang orangtua tunggal pergi mengadu? Apalagi jika mereka dihadapkan pada keterbatasan waktu, pengetahuan, kemampuan, biaya, dan sebagainya. Terlebih-lebih jika keterbatasan-keterbatasan tersebut justru merupakan faktor yang turut mewarnai persoalan yang timbul antara sang orangtua dengan anaknya.

Kepada teman atau sahabat? Bisa saja. Sayangnya, mereka pada umumnya tidak memiliki panggilan moral untuk selalu siap menopang beban hati. Paling banter, ngobrol sesekali ataupun membantu tanpa harus terlibat secara pribadi. Bagaimana dengan kakek-nenek sang anak? Selain berbeda "dunia" dan "bahasa", mereka pun acapkali kurang bisa mengambil jarak objektif terhadap persoalan yang berlangsung antara anaknya dengan cucunya. Akibatnya, malah sering memperuncing masalah.

Bagaimana dengan Pastor atau Pendeta? Wah, susah, karena mereka tidak jarang bersikap normatif dan menggurui [bahkan menghakimi], bukannya sebagai kawan. Kepada anggota jemaat lain? Walah! Bisa-bisa menimbulkan masalah baru karena menjadi bahan pergunjingan. Apalagi mereka semua tidak mengetahui secara cukup rinci proses yang berlangsung.

Kepada Tuhan? Sudahlah pasti. Hanya saja, manusia kerapkali merasa butuh sosok yang tampak secara visual dan bisa memberikan tanggapan secara langsung.

Lalu, siapa orang yang secara etis dianggap layak mengemban tanggung jawab menjaga kerahasiaan keluarga seraya membantu menjernihkan serta menyelesaikan persoalan yang sangat pribadi semacam itu? Siapa yang mau bersukarela menempatkan diri di posisi orangtua sebagaimana layaknya orangtua asli?

Peran itulah yang seyogianya dilakoni oleh para Orangtua Baptis, demikian Bapak saya kerap menyampaikan pandangannya saat beliau masih cukup sehat untuk menunaikan kewajibannya selaku seorang Prodiakon. Hanya saja saya sangsi ada cukup banyak orang yang sungguh-sungguh melakoni peran tersebut sebagaimana diidealkan Bapak (dan hal ini pun diakui beliau), kecuali mereka yang juga memiliki hubungan kekeluargaan secara nyata. Tetapi, hubungan keluarga pun ternyata bukanlah sebuah jaminan. Di dunia nyata ini, tidak sedikit keluarga yang tidak terpelihara kekerabatannya. Jangan kata diminta untuk ikut berbagi beban.

Saya pun kurang yakin bahwa mereka yang secara legal-formal-gerejani telah tercatat sebagai Orangtua Baptis tersebut sebenarnya cukup memahami makna peran yang diembannya. Ada berapa banyak Orangtua Baptis yang benar-benar bisa menempatkan diri sebagai bagian dari keluarga Anak Baptisnya berikut tanggungjawab yang disandangnya? Faktanya, saya sendiri tidak pernah diberi penjelasan oleh pihak gereja ketika menjadi Orangtua Baptis bagi keponakan saya, apalagi dimintai konfirmasi mengenai kesanggupan menjadi Orangtua Baptis. Hanya penjelasan dari Bapak sayalah yang jadi pegangan saya. Itu pun saya diskusikan terlebih dahulu dengan kedua orangtua si anak.

Saya khawatir, jangan-jangan malah tidak ada orang yang mau menjadi Orangtua Baptis jika kepadanya disampaikan "beban berat" yang akan dipikulnya. Walhasil, menurut pandangan saya, peran tersebut di masa kini cenderung menjadi sebuah formalitas belaka, yang tidak bermakna apa-apa seusai prosesi pembaptisan.

Membandingkan Godfather kaum mafia dengan Godfather pembaptisan di Katolik, tampaknya kalangan mafioso sudah lebih berhasil menerjemahkan posisi Godfather bagi sang anak ke dalam perilaku nyata. Meskipun relasi yang terbangun antara keduabelah pihak jadi berlebihan, yakni kesetiaan mutlak kepada kekuasaan tak terbatas sang pemimpin terhadap seluruh hidup dan mati sang anak, ikatan dan pengejawantahannya dalam kehidupan merupakan sesuatu yang amat nyata tinimbang sekedar prosesi dan pencatatan di selembar kertas akta baptis.

Saya tidak tahu apakah pernah terpikirkan tentang pendudukan kembali peran Godparent dalam sebuah keluarga Katolik. Entahlah. Itu urusan yang jauh dari kemampuan saya untuk menggelutinya. Yang jelas, saya masih terus bertanya-tanya tentang siapa orang yang akan mengambil peran sebagai Godparent (tanpa harus diformalkan) bagi kedua anak teman Riris yang masih demikian panjang perjalanannya ke masa depan. Tentu saja tanpa mereduksi bahkan menihilkan posisi orangtua kandung sang anak sebagai Godparent yang sesungguhnya, sebagaimana de Niro maupun Pacino maupun Garcia yang tidak akan bisa menggeser kedudukan Brando.

Terutama pada saat dunia ini tampak demikian tidak bersahabat, betapa melegakan memiliki orang yang bersedia berdiri di samping kita.

— PinAng: Minggu, 14 September 2008 15:27

Kamis, 11 September 2008 23.57

Tujuh Tahun yang Lalu

— Macapat Kelabu Satu Bangsa

Sun Shines in New York
Sun Shines in New York
askquestions911.com
1st Plane Approaching
1st Plane Approaching
jimrlong.com
2nd Plane Approaching
2nd Plane Approaching
911research.wtc7.net
Twin Towers on Fire
Twin Towers on Fire
britannica.com
Smoke in The Sky
Smoke in The Sky
gallupindependent.com
Collapse
Collapse
debunk911myths.org
Survivor
Survivor
shieldofblue.com
Shattered Dreams, Broken Lives
Shattered Dreams, Broken Lives
illinoisphoto.com
New York Heroes
New York Heroes
arlingtoncemetery.net
911 Angel
911 Angel
packrat-pro.com
Aftermath
Aftermath
wikimedia.org
Nation Hand in Hand
Nation Hand in Hand
coronanorco.com
Healing Field
Healing Field
gothamist.com

Ground Zero — Tribute in Light

Ground Zero
911hotline.com
Ground Zero
af.mil
Ground Zero
nymag.com
Ground Zero
911hotline.com


Heaven 9-11
youtube.com

Never Forget
Never Forget
fireandrescuedecals

— PinAng: 9 September 2008 23:57

Rabu, 10 September 2008 12.00

Bianglala Kehidupan

— Merentang Busur Asa dan Juang Tanpa Putus

Rare Rainbow (Idaho, June 19, 2006)
Rare Rainbow
nationalgeographic.com

Entah kenapa, sepekan ini saya berulangkali memutar lagu Somewhere over The Rainbow, persis kelakuan orang sedang kasmaran yang tidak jemu mendendangkan lagu cinta yang sama sampai-sampai orang lain naik pitam karena bosan :-)). Padahal saya tidak sedang mengalami mood tertentu yang ada hubungannya dengan pelangi, konon pula dengan rasa kasmaran.

Sudah agak lama saya ingin tahu siapa yang menyanyikan lagu yang terdengar sederhana. Apalagi penyajiannya hanya diiringi kocokan khas pada ukulele, sebuah alat musik yang boleh dibilang sama sekali tidak elit dan prestisius bagi para pesohor musik. Benar-benar lagu yang sederhana.

Beberapa kali saya mendengar lagu itu digunakan sebagai musik ilustrasi film. Yang masih saya ingat adalah 50 First Dates yang diperani oleh Adam Sandler dan Drew Barrymore (tentu saja bersama sobat kental Sandler, Rob Schneider) serta Meet Joe Black yang dibintangi Brad Pitt dan Anthony Hopkins. Juga sebuah film lain yang saya lupa judul dan ceritanya :-(, hanya ingat adegan akhirnya dimana kamera yang berada di ketinggian angkasa menyorot sang tokoh yang berdiri di puncak sebuah bukit.

Karena film-film itu bicara tentang nilai indah harapan dan perjuangan serta penghargaan terhadap kehidupan, terlepas dari tragedi apa pun yang mengiringi dan menggerogoti, tentu sangat menarik untuk mengetahui mengapa lagu sederhana itu dipilih. Namun kali ini saya tidak hendak bicara tentang film-film tersebut walau ada sesuatu yang sangat dalam yang bisa diulas. Lain kali saja.

Satu ketika, Riris membuat sebuah demo iklan untuk media TV yang dihiasi lagu tersebut. Kontan rasa penasaran saya jadi makin tergugah. Sayangnya, Riris tidak bisa memberikan informasi banyak tentang lagu tersebut. Bodohnya pula saya saat itu tidak segera bertanya pada Mr. Google yang mahasakti dalam soal informasi :-). Walhasil, rasa ingin tahu itu tetap tinggal sebagai kerikil samar-samar dalam hati selama sekian lama.

Beberapa hari yang lalu, sewaktu mengunggah (upload) lagu-lagu ke internet, saya teringat pada lagu yang menurut saya cukup ajaib itu. Kali ini, tanpa menunda-nunda lagi, saya langsung takzim menghadap Mr. Google. Dalam hitungan kurang dari 1 detik, ribuan informasi segera membanjiri layar komputer. Dari sana, saya singgah ke perpustakaan WikiPedia untuk mencari informasi lebih dalam, serta menyambangi situs YouTube untuk mendapatkan efek visual. Dan tentu saja tidak lupa memasukkan lagu tersebut ke dalam daftar lagu untuk blog ini :-).

Israel Kamakawiwo'ole
Israel "Iz" Ka'ano'i Kamakawiwo'ole

Baru saya tahu bahwa lagu itu digubah dan dipopulerkan oleh seorang "raksasa" dari Hawaii bernama Israel Ka'ano'i Kamakawiwo'ole yang akrab disapa Iz. Kisah hidupnya cukup menarik. Selain menjadi seniman yang tekun memopulerkan musik khas Hawaii, Iz juga adalah seorang pejuang yang gigih menyerukan kebebasan dan hak-hak orang Hawaii.

Demikian besar determinasi dan upayanya, sehingga pada akhir hayatnya dia menjadi orang ketiga (tetapi rakyat biasa pertama) yang jenasahnya mendapat penghormatan disemayamkan di gedung pusat pemerintahan Honolulu. Bendera Hawaii pun dikibarkan setengah tiang pada hari pemakamannya. (Jadi ingat Bob Marley yang juga sering dianggap sebagai pahlawan orang Jamaika.) Selain raksasa dalam ukuran badan, ternyata Iz juga adalah seorang raksasa dalam musik serta perjuangan kesetaraan hak-hak sipil orang Hawaii.

Tentang lagu itu sendiri; secara mengagumkan Iz menyisipkan syair lagu "What a Wonderful World" gubahan Louis Armstrong Jr. di tengah-tengah syair lagunya. Lagu Armstrong yang berjiwa jazz/blues tersebut masuk dengan mulus dan cantik ke dalam irama hawaiian yang menjadi karakter lagu Iz. Lagu yang kemudian kerap dijuduli Somewhere over The Rainbow/What a Wonderful World itu pun populer ke seantero dunia. Bahkan hingga saat ini, setelah kematian Iz sekitar satu dekade lalu. Selain dinyanyikan banyak orang dan penyanyi sohor dari berbagai genre musik, juga menjadi lagu latar berbagai film dan iklan di berbagai negara.

Digital Rainbow
Digital Rainbow
digitalrevolutions.biz

Sekarang soal pelangi. Sejatinya, tidak satu pun dari kita —kecuali saudara-saudara yang tunanetra ataupun butawarna— asing pada pelangi serta keindahannya. Memang pelangi hanyalah sebuah fenomena optik yang bisa dijelaskan secara masuk akal oleh ilmu fisika sehingga tidak dianggap sebagai mukjijat. Namun, sekian masa yang lampau, pelangi dipandang sebagai tanda yang dilambari sifat keilahian. Bahkan menjadi meterai perjanjian damai antara Tuhan dan manusia melalui Nuh, demikian Alkitab bertutur perihal fenomena indah alam yang saat itu belum terjelaskan ilmu pengetahuan.

Maka bisa dipahami mengapa pelangi hampir selalu dikaitkan dengan kebaikan. Malahan dalam dongeng kanak-kanak, sering digambarkan sebagai busur rejeki yang di kakinya tergeletak seguci emas ataupun sepeti harta karun. Pada intinya, nyaris tidak ada metafora yang menggunakan pelangi untuk keburukan. Paling banter netral-netral saja sebagai kias keragaman ataupun dinamika asam-garam kehidupan.

Pelangi adalah simbol keindahan-tiada-tara dunia ini. Segala sesuatu demikian indah dalam harmoni bak sebuah simfoni agung. Maka, rasa haru saya cukup tergetar saat melihat klip video yang lagunya dilantunkan suara kanak-kanak Aselin Debison (silakan klik ini ataupun ini).

Sialnya, bukan klip video manis tersebut yang pertamakali saya temukan dan buka di situs YouTube :-(, melainkan video ilustrasi di bawah ini.

Entah siapa yang membuatnya, namun dengan jitu memparodikan 180° seluruh syair tentang keindahan yang semula nikmat didendangkan. Dan naasnya, justru itulah kenyataan dunia saat ini! Walhasil, lagu yang semula membuat saya penasaran itu kini malah membuat saya terjerembab dalam renung kesesakan. Benarkah dunia ini demikian indah tiada tara? Ataukah semua itu hanya dongeng pengantar tidur kanak-kanak?

Dan ketika menyimak liriknya, saya terpukau pada frasa pendek yang disodorkan Iz di akhir syairnya. Begitu singkat sehingga tidak menonjol, bahkan seperti sambil lalu. Namun, entah kenapa, saya merasa, justru pada frasa pendek itulah terkristalkan jiwa lagu tersebut.

Adalah sebuah gugatan besar yang mendasar tatkala seseorang mempertanyakan kenyataan tidak diijinkan memasuki berbagai hal indah dan menyenangkan yang berani [dan boleh] diimpikan orang lain. Seluruh keindahan yang kerap dikisahkan orang lain tinggal sebagai dongeng yang bahkan terlarang untuk dimimpikan, konon pula dinyatakan. Sebagian orang seakan berhadapan dengan dinding cadas yang membatasinya dari kebebasan dan keutuhan manusia yang asasi. Dalam hal ini saya bisa memahami maknanya dalam kaitan perjuangan Iz bagi hak-hak orang-orang asli Hawaii yang terbedakan dengan orang kulit putih.

Gugatan semacam itu membuat saya resah tatkala merefleksikannya ke dalam kehidupan di sini dan kini.

Saya percaya bahwa sesungguhnya dunia dan kehidupan ini amatlah indah. Penuh warna bagai pelangi, yang dalam lagu kanak-kanak dinyatakan sebagai ciptaan Tuhan. (Bukankah dunia dan hidup ini memang ciptaan Tuhan?) Pelangi adalah gambaran keragaman berbagai hal yang kita hadapi setiap saat dalam kehidupan. Kita bisa saja melihat sesuatu yang sama, tetapi belum tentu kita membaca makna dan memiliki rasa yang sama tentangnya. Demikianlah halnya semua kenyataan yang berlintasan di hadapan kita. Amat berwarna dan seharusnya amat menggairahkan. Bahkan setiap orang pun berhak memiliki pelanginya sendiri, tempat dia menyisipkan harapan dan mimpi-mimpi.

Sayangnya, kerapkali kita sulit menerima keberadaan orang lain yang memiliki "warna" berbeda dengan yang kita gemari. Entah bagaimana caranya menikmati keindahan pelangi yang hanya terdiri dari satu warna. Dan entah warna mana pula yang pantas dihadirkan. Setiap orang akan bertikai mempertahankan kubu masing-masing.

Pelangi kehidupan memang tidak seindah pelangi alam. Tidak musti selalu berwarna cerah semarak. Begitulah galibnya kehidupan. Namun, pelangi kehidupan ini acap berlumur lumpur hitam yang bukannya tidak jarang kita sendiri yang melaburkannya atau —lebih celaka— dilakukan satu orang terhadap lain orang. Tak perlu kita sangkal kenyataan tentang sebagian orang yang —entah dengan cara bagaimana— punya kuasa menentukan, menodai, atau bahkan merebut pelangi orang lain. Di sisi lain, tidak sedikit orang lain yang sudah tidak tahu lagi bagaimana menghayati pelangi kehidupannya yang sudah tergadaikan oleh belenggu keseharian. Di antara keduanya terentang ketegangan tak terdamaikan yang mungkin belum akan berakhir hingga hayat berpamitan pada raga.

Seandainya saja setiap orang mau berpadan diri dalam harmoni bagai nada-nada yang terangkai dalam sebuah lagu, niscaya semua akan menjadi pelangi yang anggun mewarnai kehidupan. Betapa indah dunia ini jika berjuta pelangi saling bertaut menyumbangkan keindahan masing-masing.

Pelangi memang belum menjadi tanda perdamaian dan kebaikan yang dijanjikan bagi seluruh insan. Namun kehidupan terus berjalan tanpa henti, tak jemu menantang orang-orang untuk tidak pernah menyerah hingga mencapai kaki pelangi. Di baliknyalah barangkali akan ditemukan keindahan sejati, bukannya kesemuan penuh gincu demi mematut penampilan dan kenikmatan tamak. Barangkali di sanalah bisa disua kedamaian dalam kesahajaan yang tidak canggih, tatkala setiap orang sedia berbagi dengan sesamanya, sehingga tak ada lagi orang yang masih harus berjuang menggugat hak-hak asasinya, termasuk untuk bermimpi.

Di sanalah mungkin Iz kini berada, bernyanyi riang dengan ukulelenya. Entah pula jika hal itu berarti telah terpenuhinya janji perdamaian antara Tuhan dengannya, sehingga pelanginya bukan lagi sekedar sebuah busur cahaya yang dipendarkan kristal air sebagai sebuah fenomena fisika biasa semata, bukan pula sebuah angan yang terbelenggu. Somewhere over the rainbow, dreams really do come true.

Sekarang saya bisa menarik hikmah dari parodi video ilustrasi tersebut tentang kenyataan dunia yang amat bertolakbelakang dengan keindahan di balik pelangi. Kendati demikian, bagi saya, lagu legendaris karya Israel Ka'ano'i Kamakawiwo'ole itu adalah sebuah himne bagi orang-orang yang terbedakan namun tidak pernah terkalahkan. Itu sebabnya secara intuitif saya langsung menyukainya sejak awal B-)

— PinAng: Sabtu, 6 September 2008 02:27

Sabtu, 06 September 2008 12.00

Panta Rhei*

— Nyanyi Sepi Segara Lara

Satu lagi tulisan yang menjadi peserta perlombaan yang dibatalkan itu :-((

Song of Self
Song of Self
by Henryk Fantazos

Malam masih amat muda tatkala perempuan itu duduk di sofa di hadapanku berseberang meja. Kutoleh sekejap lalu meneruskan membaca email melalui PDA. Apa peduliku? Setiap orang berhak duduk di kursi mana pun yang disukainya.

"Boleh minta rokok sebatang?" tanyanya mengoyak keasikanku.

Kuangkat wajahku dari ketertundukan. "Silakan," sahutku sambil menyorongkan bungkus rokok yang tergeletak di meja diapit pemantik api Zippo dan asbak keramik berisi dua puntung padam.

Perempuan itu mencabut sebatang rokok. Alih-alih menyalakan pemantik api a-la gentleman dalam film, aku hanya mendorong Zippo ke arahnya.

"Terimakasih," katanya sambil menghembuskan asap lewat mulut dengan tiupan kuat.

"Kembali," sahutku sepintas tanpa menghentikan gerak stylus di layar sentuh PDA. Tak terlintas hasrat bercakap-cakap meski sekedar basa-basi. Bukan kebiasaanku berkenalan dengan sembarang orang di sembarang tempat dan waktu. Apalagi di arena boling, tempat bermacam manusia boleh datang dan pergi sesuka hati tanpa wajib kenal-mengenal.

Pasti aku sudah melupakan kehadirannya jika dia tidak bicara tepat setelah kutuntaskan membaca dan membalas beberapa email.

"Tidak main?" tanyanya.

Aku menggeleng sambil mematikan PDA. "Tidak suka," kataku menegaskan.

"Terus, ngapain ke sini?"

Keningku berkerut. Untuk apa menanyakan alasan kehadiran seseorang di tempat yang boleh dikunjungi siapa pun termasuk yang tidak punya alasan?

"Mengawani sepupu," tukasku datar dengan gerakan dagu menunjuk Ronny yang beberapa bulan ini amat gandrung boling.

"O, Pak Ronny."

"Kenal?"

"Satu klub dengan temanku," sahutnya seraya menunjuk lelaki yang bermain di jalur lain. Kukenali Ishak yang belasan tahun lebih tua dibanding Ronny yang seumuranku. Sedangkan perempuan itu kutaksir tak kurang sepuluh tahun lebih muda dariku. Entah bagaimana cara pertemanan dua insan berbeda jenis kelamin yang terpaut duapuluhan tahun. Ah, bukan urusanku!

"Kamu tidak main?" tanyaku kemudian. Entah kenapa aku jadi rajin berbasa-basi. Biasanya aku amat canggung pada perempuan, apalagi di tempat umum, sehingga kerap diolok bahwa padananku adalah perempuan "rumahan" atau "sekolahan". Peranku dalam berbagai kesempatan adalah menjadi manusia periferal di tepi kerumunan sebagai figuran yang luput dari hitungan.

"Sedang malas," katanya sambil mematikan rokok di asbak.

"Biasa main di sini?"

"Seminggu sekali. Lain hari, di Kuningan atau Ancol."

"Minimal tiga kali seminggu, jago dong."

"Ah, biasa saja."

"Suka ikut turnamen?"

"Kalau hadiahnya menarik," jawabnya sambil tersenyum.

Kudorong bungkus rokok dan Zippo sekalian ke dekatnya. Rokok dia selipkan di bibir. Tangan kanannya yang menggenggam Zippo melakukan dua gerakan tanpa jeda: ibu jari mengungkit terbuka tutup Zippo dengan denting khas, lalu berbalik memutar roda gigi penggesek batu api menyalakan sumbu. Setelah ujung rokok membara, tangannya menyentak ke kiri sehingga Zippo menutup memadamkan api. Kendati hanya style dasar, belum pernah kulihat seorang perempuan memakai Zippo dengan bergaya.

"Perokok profesional juga rupanya," komentarku.

"Belasan tahun mencumbu nikotin," dia tersenyum.

Baru kusadari matanya pun memancarkan senyum di balik bulu mata yang —juga baru kusadari— amat lentik. Entah asli atau palsu, tampak pantas hadir di sana. Telanjur memandang, kuteruskan menelusur kening, hidung, pipi, bibir, dan dagunya. Tanpa bedak, hanya saputan samar gincu merah pucat di bibir. Walau tidak cantik seturut kriteriaku, semua tertata serasi. Bekas luka kecil di tepi kelopak mata kirinya bahkan menjadi aksen pemanis. Ya, manis adalah istilah yang cocok. Hitam manis, tepatnya. Eksotis.

"Ada yang aneh di mukaku?" tanyanya memergoki.

Aku menggeleng. Lambaian Ronny di depan meja kasir menyelamatkanku dari kekikukan.

"Ronny sudah selesai. Aku duluan," kataku sambil bangkit.

"Thanks rokoknya."

Aku mengangguk kecil sambil menjajari Ronny ke pintu keluar.

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ronny setelah kami duduk di mobil.

"Siapa?"

"Kamu dan perempuan tadi, Julia."

"Tidak ada. Hanya minta rokok."

"Hati-hati."

"Kenapa?"

"Bukan perempuan rumahan dan sekolahan."

"Karena bersama Ishak si hidung belang?"

Ronny hanya berdehem.

Aku tak berminat meneruskan. Bergunjing bukanlah kegemaranku. Lagipula, siapakah Julia sampai perlu kubicarakan? Hanya seorang perempuan yang sejenak lewat di satu malam yang sangat biasa untuk menumpang menghirup dan mengepulkan kabut nikotin dua batang rokokku.

Flying Lessons
Flying Lessons
by Henryk Fantazos

Ternyata, masih berkali-kali kujumpa Julia. Setelah kali kesekian, dia tak lagi sungkan duduk di hadapan atau sampingku. Malah sepertinya sengaja mencari. Dan, laksana ritual, aku pun langsung menyodorinya rokok berikut Zippo.

Kadang, tak satu pun kata terucap sampai aku pulang, hanya menambah tebal asap yang berlomba menggapai langit-langit. Atau bergurau mengomentari tingkah para pemula yang tersipu malu melihat bolanya menyusur parit tepi lintasan. Namun, adakalanya kami berbincang serius setelah tak lagi peduli pada kata-kata minus polesan. Atau saling meledek tanpa sakit hati. Kecerdasan dan kejenakaannya membuatku nyaman.

"Pasti kamu punya pikiran jelek tentang aku," satu kali dia berkata tiba-tiba.

"Kenapa? Karena orang yang kamu temani?" aku menebak.

Julia mengangguk, tak lepas menatapku dengan sorot mata kanak-kanak yang menuntut jawaban paling jujur.

"Bukan jelek, hanya buram," elakku bergurau. Kuhirup rokok dalam-dalam lalu mengepulkan asapnya ke atas membentuk lingkaran tebal berpilin.

"Kamu baik. Tak pernah hunjamkan pandang merendahkan," katanya lagi.

"Kenapa harus begitu? Pilihan dan kemauan tidaklah sama ukurannya bagi tiap orang."

"Jika pilihan itu bukan dari kemauan orang itu sendiri tapi pilihan dan kemauan orang lain?"

"Apa yang kamu harapkan? Belaskasihan? Jangankan airmata, darah pun tak ada harganya. Kita sendiri yang tentukan siapa kita di dunia yang tidak adil ini dengan apa pun yang kita miliki kini."

"Termasuk menjadi sepertiku?"

"Lihat, kamulah yang menilai rendah diri sendiri! Tahu apa aku tentang kenyataan yang terjadi pada diri kamu sehingga berhak menilai pembenaran yang kamu ambil? Tidak ada."

"Kalau kamu tahu ... ?" tanyanya menggantung.

"Jangan paksa aku jadi orang suci."

Julia terdiam sejenak. Asap rokok di jemarinya mendaki atmosfer pelan-pelan. Aku sengaja menunggu.

Sambil mematikan rokok dia berkata, "Aku anak sulung dari tiga bersaudara, perempuan semua, dari keluarga biasa. Kaya tidak, miskin tidak, terkenal pun tidak. Hanya jambon krislam seperti banyak orang lain."

"Jambon krislam?" aku tak paham.

"Bapak Jawa, ibu Ambon. Ibu Kristen, bapak Islam," dia tertawa senang melihat kerut keningku. Matanya ikut tertawa. Aku memencongkan mulut.

"Sore itu kami bertiga sedang pulang melalui jalan yang setiap hari kami lalui ketika sekelompok lelaki menyergap dan menyeret kami ke dalam hutan. Kepalaku diselubungi kain, tak bisa melihat apa yang terjadi pada kedua adikku. Hanya jeritan mereka yang kudengar ditingkah suara pukulan, makian dan tawa lelaki, serta kain koyak. Kian keras mereka menjerit, kian kerap pukulan kudengar, hingga akhirnya jeritan mereka melemah dan lenyap. Aku tahu, yang mereka alami sama seperti yang kualami, dianiaya dan diperkosa."

Telinga kupaksa menepis gaduh hantaman bola boling. Wajah eksotisnya bagai petang yang sekonyong-konyong diringkus malam.

"Apa yang mereka incar dari seorang novis berkawan dua perempuan kecil berseragam sekolah lanjutan pertama? Keluarga kami bukan tokoh masyarakat, bukan penggiat gereja atau mesjid, bukan pula anggota laskar. Kenapa kami?"

Mulutku terkunci. Layar di benakku mengilaskan tragedi kelam yang melanda kepulauan rempah-rempah bertahun silam.

"Sia-sia meronta. Bertubi pukulan ke badan dan kepala membuatku tak mampu bertahan tetap sadar. Saat siuman, kutemukan diriku terkapar telanjang berkubang lumpur. Perih luka dan memar melumpuhkan seluruh sendi. Kepala tak lagi berselubung. Langit di atas amat gelap. Hutan begitu senyap. Kuseru nama kedua adikku sekuat tenaga, tapi hanya bisik berludah darah yang terucap. Berulangkali kucoba, tiada bersahut. Aku melata sambil meraba-raba hingga akhirnya menyentuh benda lunak hangat. Adik bungsuku. Kukenali dari parut di lengan kirinya. Telanjang berlumur lumpur, leher mengangakan luka, kepala terkulai nyaris terpisah dari tubuhnya. Gerimis di gelap malam jadi ganti tangis yang tak sanggup kulakukan."

"Tidak usah diteruskan jika membuatmu tak nyaman," hiburku saat dia tersuruk dalam diam. Halimun kelabu bergulung-gulung di telaga gelap tanpa airmata.

"Enggankah kamu jadi pendengar cerita tak indah?" todongnya.

"Haruskah bercerita kepadaku yang hanya seorang asing bagimu?" balasku.

"Kamu Aldo. Aku Julia," katanya sambil menganjurkan tangan kanannya. Kami bersalaman seperti baru berkenalan. "Nah, sekarang kita bukan lagi orang asing satu sama lain," sambungnya menirukan dialog dari film yang kulupa judulnya. Aku menyeringai sepat.

Belum sempat dia lanjutkan kisahnya, kulihat Ronny melambai dari depan meja kasir. Kukedipkan mata pada Julia memberi isyarat aku harus pulang. Dia mengangguk tanpa kecewa.

"Besok ada waktu?" tanyanya sebelum aku beranjak.

Biasanya tak ada kegiatanku hari Sabtu. "Kuhubungi besok," kataku sambil mengeluarkan PDA hendak mencatat nomor ponselnya.

"Tidak usah. Aku akan ada di sini," elaknya halus.

Kuhampiri Ronny. Sepanjang jalan, aku hanya diam. Ronny pun tak berselera bicara. Mungkin kesal karena kalah dalam permainan.

From: jdf83@...
Date: Wednesday, 30 July 2008 21:34

dear aldo,

sebentar lagi burung besi gemuk itu membawaku melintas laut dan benua ke tempat yang belum pernah kubayangkan sekalipun dalam khayal, sebuah negeri yang tiruan saljunya dulu kerap kulihat di dedaunan cemara natal. kata orang, di sana semua mimpi tak lagi mustahil. sayangnya aku tak berani bermimpi, hanya bersedia diri mendada hari sekuat badan dan jiwa, apa pun taruhannya.

banyak yang sudah dan akan kamu dengar dari ronny ataupun orang lain. tak akan kusangkal meski bukan itu kesejatian yang erat meringkuk di pojok paling rahasia diriku. kamu pun tak sepenuhnya tahu biarpun kamu satu-satunya orang yang kututuri perihalku. apa pun kata mereka, janganlah turut menjadi hakimku, sebagaimana aku pun tak akan mengutuk noktah hidupku sebagai dosa orang lain.

julia namaku. dari nama bulan pertama paruh kedua tahun. aku tak percaya takdir, tapi pilihan dan kemauan. kuingin langkahku kini jadi pijakan pertama merengkuh kesempatan kedua dari pilihan yang kutetapkan sendiri.

harapkan aku tak patah dan kalah. doakan aku jika kamu masih percaya doa.

penuh sayang,
julia

Malam mendaki remaja.

* * *

Langit Sabtu berundung awan. Julia menawan seluruh petang dan setengah malamku lewat kisahnya.

Dia peluki jasad adik bungsunya dalam hujan, tak henti membisikkan namanya sepanjang malam hingga fajar menyeruak dari balik pepohonan sagu. Beberapa orang kampung yang lewat lantas menolongnya. Adik keduanya tidak pernah ditemukan.

Saat pulang, cuma arang membara dan puing berasap yang dia dapatkan. Genap sudah kemusnahan seketika. Tak sesuatu dan seorang pun tersisa sebagai alasan tetap tinggal. Hampa hari menuntun galaunya ke pelabuhan. Ingin dia luruhkan segalanya ke buih ombak yang menyerpih diiris lunas kapal yang membawanya ke Surabaya.

Namun, malam pekat berhujan di hutan sagu bersikeras memburu lewat ingatan maupun mimpi-mimpi yang senantiasa memaksanya terjaga bersimbah peluh. Tidur jadi sangat menakutkan. Dia larikan dirinya mengejar malam tanpa kegelapan. Profesi pramuria karaoke menyeretnya ke keping waktu padat rahasia. Cengkeraman pelik kemilau semu malam mendesaknya ke sisi paling muram seorang perempuan.

"Setelah semua direnggut paksa, masih haruskah kenajisan diludahkan pada perempuan yang memakai tubuhnya, satu-satunya milik yang tersisa, untuk bertahan? Seks tak lagi berurusan dengan kesakralan maupun rajut terhalus perasaan manusia, melainkan transaksi menunda lapar. Dan, bagiku, sebagai senjata perlawanan. Mereka memujanya, aku menistanya. Kucibir mereka yang terkapar kalah di hadapan seks yang mereka kejar," tutur Julia tanpa nada berapi-api.

Jeda sejenak sebelum dia menyambung, "Tapi, adalah munafik jika kukatakan tak pernah sekali pun menikmatinya. Seperti orang lain, aku pun punya birahi. Dan tak bisa kubunuh angan untuk merasainya sepenuh-jiwa sepenuh-tubuh bersama lelaki yang sanggup berdamai dengan keberadaanku."

"Seperti film Pretty Woman?" cetusku mencoba mengikis getir.

"Begitulah," timpalnya ringan. "Nyaris aku terbebas dari jerat kemenduaan itu saat kujumpa Ronny."

Serta-merta tenggorokanku tercekat. Alis mata kananku terangkat. Ronny? Anggukan Julia menjadi konfirmasi.

"Tapi aku tidak terlalu bodoh untuk memahami siapa diriku dan siapa Ronny. Pretty Woman adalah senandung orang yang mampu bersegera selaraskan diri seturut perkembangan keberadaan orang lain. Sedangkan kita masih selalu memperhitungkan masa lalu sebagai ukuran martabat."

"Tapi, Ronny ..."

"Setidaknya, dia menyadarkanku bahwa kubangan pun ada tingkatannya," potong Julia tertawa, "yang tidak mustahil ditembus di Jakarta ini."

Lidahku kelu. Meski kutahu Ronny jauh dari alim, tak pernah kuharap menyua sosok fragmen masa lalunya.

"Tak usah dipusingkan. Aku saja tidak kenapa-napa, malah kamu yang loyo seperti baru dilabrak debt collector," gurau Julia membuyarkan kecamuk pikiranku.

"Aku jadi curiga kamu mendekatiku karena Ronny," gumamku murung.

Julia menampar pelan pipiku sambil mencibir. Bukan marah, sebab kulihat senyum menari di matanya.

"Paranoid! Kamu kira aku anak kencur yang ingin pacarnya cemburu?"

"Lalu kenapa?"

"Sebab aku suka kamu," bisiknya tanpa menundukkan pandang.

Gubraaaak! Mungkin itulah seruan remaja jaman sekarang yang jitu memerikan perasaanku. Melongo adalah satu-satunya ekspresi yang bisa kutampilkan.

"Jangan pasang tampang bloon gitu, ah!" tegur Julia sambil menggoyang-goyangkan daguku.

Aku masih belum bisa bereaksi.

"Terlarangkah bagiku untuk menyukaimu? Terlalu tinggikah kamu untuk kusukai?" desaknya membelalak. Senyum masih menari di matanya.

Julia, aku hanyalah seorang lelaki periferal. Pengakuan seperti itu bukanlah hal biasa buatku.

"Jika demikian, kenapa aku repot-repot ke sini?" gerutuku melepaskan diri dari debar.

"Entah. Mungkin mengharap seks ...," sahutnya acuh tak acuh.

"Dasar otak kotor, mulut juga kotor!" geramku sambil menuding mulutnya.

"Memangnya tidak pernah terpikir? Ayo, ngaku!" ganti dia menuding pelipisku.

Telanjur masuk gelanggang, sekalian sajalah bertarung. "Sangkamu aku lelaki buta tuna imajinasi?"

Julia menatap mataku seakan hendak menerobos ke dalam. Dengan lembut diraihnya kepalaku mendekat ke arahnya. Di luar, gerimis turun malu-malu dalam lagu.

From: jdf83@...
Date: Friday, 1 August 2008 07:47

dear aldo,

aku baru tiba di negeri yang bekunya masih belum bisa kuakrabi. kutulis email ini di café sambil menunggu kereta. secangkir cappuccino hangat dan zippo tuamu mengawaniku. tapi aku masih sanggup bertahan tidak menyalakan rokok.

sabtu sore itu, nyaris tak luput kutatapi pintu, berharap kamu segera tiba walau kamu tak pernah janji. senyum pasti menari di mataku (begitu istilahmu) saat hadirmu memupus 5 jam penantian paling meresahkan.

itulah kali terakhir pertemuan kita. kamu terkejut saat kukatakan bahwa kamu satu-satunya orang yang kupamiti. memang tak ada siapa-siapa yang bukan orang asing bagiku. tidak pak ishak, tidak ronny, atau siapa pun yang bahkan pernah berbagi selimut denganku. hanya kamu, yang sebatas berbagi rokok, waktu, dan kata. toh tak semua percintaan bermeterai persebadanan, katamu.

diniary namaku. dari "dini hari". aku percaya janji mentari yang akan selalu berjuang datang saat subuh menjelang. kuingin hari tersulit yang kusongsong kini jadi fajar pemupus pekat meski harus merangkak lambat.

dear aldo, keretaku sudah tiba. belum sepadan terimakasihku atas semua perjumpaan kita yang membuatku tak putus berharap ada pagi di ujung lorong dan semua akan baik-baik saja.

dengan cinta,
diniary

Malam kian meranum dewasa.

* * *

Aku tidak mengawani Ronny ke tempat boling. Batuk dan pilek menyerangku membabi-buta. Bunyi komputer tanda datangnya email memaksaku turun dari ranjang.

From: jdf83@...
Date: Saturday, 2 August 2008 04:23

dear aldo,

fajar baru saja bangkit menciumi embun di balik kaca jendela. satu malam berlalu lagi, satu perjalanan pun usai sudah. namun, untaian tualang sejati temukan tempat dan makna, baru saja bermula, di hamparan lenan putih yang menantiku melangkah.

aku percaya segala sesuatu mengalir. kini aku pun akan mengalir. ke atas, melampaui lapis teratas kubangan. kuharap kota kecil yang namanya mungkin belum pernah kamu dengar ini tak menuntut daya lompat sedahsyat jakarta :-) setidaknya, tak ada yang mengukuriku lewat teropong masa lalu.

fitria namaku. dari "fitri". kuingin lahir kembali seperti bayi yang tak berbeban dosa kala menyapa dunia dengan ketelanjangan dan tangisan.

ya, aku telanjang saat ini, aldo. kumau memasuki dan dirasuki sejarah baru dengan kepolosan paling hakiki. kuingin menyapamu seutuh diri tanpa selubung, hanya berbatas udara yang dulu kerap kita gambari dengan asap.

aku juga menangis, aldo. bukan bersebabkan ketelanjangan-luka-memar berlumur lumpur di hutan sagu ataupun ranjang masai berkeringat, melainkan dari rasa paling purba yang telah kulabuhkan kekal di satu sabtu, menyimpul tuntas geligi masa lalu yang dengannya aku telah berdamai.

dear aldo, dentang lonceng doa pagi memanggil. aku harus bergegas. maklum, aku belum cukup mahir memasang tudung kepala :-)

dalam kasih,
fitria

ps. alamat ini akan kututup setelah email ini terkirim. tak usah kita rindukan masa datang. biarlah semua mengalir.

Ada yang diam-diam menyelinap lolos dari pusat diriku. Rasa kehilangan yang teramat sangat. Seorang perempuan bukan rumahan dan bukan sekolahan. Bukan kriteria idamanku. Namun satu-satunya yang pernah menghelaku dari sisi periferal menjadi orang pertama bahkan satu-satunya.

Adieu, Julia Diniary Fitria. Panta rhei.

Malam kian menyuruk renta. Hari esok mematri janji kisah berbeda.

— PinAng: Minggu, 3 Agustus 2008 04:01

[*] panta rhei (Gerika) = segala sesuatu ada dan berubah dalam aliran.

untuk seseorang yang namanya jadi ilham meski bukan tokoh nyata kisah di atas

Kamis, 04 September 2008 20.36

Di Timur Luar Sebuah Taman*

Satu tulisan yang menjadi peserta sebuah perlombaan yang dibatalkan :-((

Adam and Eve
Adam and Eve
by Stan Mullins

Mega tembaga bergayut di langit muram. Bongkahan awan-awan kecil berarak pelan merapat, lalu menyatu seakan bersepakat menaungi satu noktah yang nyaris tak nampak dari ketinggian: segunduk tanah bercampur lempung kuning yang diapit sepasang perempuan dan lelaki berhadap-hadapan.

"Marahkah engkau?" si perempuan mengoyak senyap tanpa mengalihkan pandang dari gundukan tanah.

Lelaki itu tidak menjawab. Tangannya menoreh-noreh tanah dengan pangkal ranting zaitun yang masih berdaun, lalu menancapkannya di salah satu ujung gundukan. Dia mendongak sejenak menatap mega tembaga yang kian padat menggumpal di langit sebelum menyahut lirih, "Tak ada alasan bagiku marah pada daging dari dagingku dan tulang dari tulangku. Engkau adalah aku, aku adalah engkau [1]. Perihalmu adalah perihalku. Murka dan nestapa yang kautanggung, pula sukacita dan rahasia, adalah karunia untuk kita saling berbagi, meski tak bisa sepenuhnya kita kecap bersama."

"Aku tahu. Tapi hatiku masih saja resah."

"Mengenai kekinian kita di sini akibat pilihan kita sendiri? Kalaupun semua ini adalah kesalahan, setidaknya kita masih punya alasan untuk menjalaninya bersama."

"Meski kita telah kehilangan banyak?"

"Walau kehilangan segalanya."

Burung gagak di pucuk pohon ara kering memiringkan kepalanya bagai ingin menyimak cermat percakapan mereka. Seekor kupu-kupu bersayap kuning berbintik ungu hinggap di ranting zaitun. Sayapnya mengepak perlahan mengirim isyarat aman bagi seekor kupu-kupu lain agar hinggap di sisinya. Dengan santun keduanya melarutkan diri dalam hening.

"Mengapa kaubiarkan aku jadi jurubicara atas sesuatu yang tak pernah diserahkan untuk kutanggungjawabi?" tanya perempuan itu setelah cukup lama terperangkap dalam diam. Dia tolehkan wajahnya menatap lelaki yang masih tepekur di seberang gundukan.

"Aku tak membiarkanmu. Aku bersamamu," sahut si lelaki masih dengan suara lirih.

"Kau tak melarangku beradujawab dengan si ular tua!"

"Manalah bisa aku melarang setelah aku lebih dulu kehabisan kata menghadapinya? Kaulah pembelaku, benteng pamungkas diriku sepenuh, penyambung lidahku kelu, pengurai kebuntuan pemberangus benakku. Justru karenamu aku urung kehilangan martabat kemanusiaanku di hadapan seluruh mahluk yang menjadi saksi perjumpaan kita dengan si ular tua. Seluruh diriku, semua yang terbaik dariku, ada padamu. Walau pada akhirnya takluk, masih ada harga diri tak terenggutkan yang membuat kepala kita tetap tegak saat terusir."

"Kau bermanis kata menghiburku dan menghibur dirimu sendiri," si perempuan merajuk.

"Beginilah cara kita berbagi saat berbagai beban mendera. Begini pula keturunan kita kelak menyatakan kesejatian kebersamaan mereka. Walau tak langsung katupkan nganga luka, setidaknya ada peluang tak tersungkur sebatangkara."

"Kau bersungguh-sungguh dengan kata-katamu?" selidik si perempuan sambil melirik tajam.

Lelaki itu mengangkat wajahnya. Matanya menghunjam tajam langsung ke bola mata si perempuan.

"Bukannya aku tak punya pilihan meninggalkanmu. Namun, ikrar telah kutorehkan jauh sebelum namamu disebut. Kepada namamu, jiwaku tak kuasa ingkar dan berdusta. Dan atas nama ikrar itu, janji-janji baru jadi memuakkan."

Sinar mata perempuan itu melembut. Tangannya, yang tak sehalus dulu, membenahi ranting zaitun yang agak miring.

"Begitukah cara keturunan kita kelak menautkan janji antarmereka?" tanyanya lagi.

"Ya. Hanya diperlukan satu ikrar demi seluruh hidup mereka, hingga kisah tergenapkan."

"Kau yakin tentang masa depan?"

"Semula, hanya pengetahuan tentang masa kini yang kumiliki, yang dengannya semua mahluk kuberi nama. Dengan kehadiranmu, aku menjadi lengkap. Sebagian masa depan kini dapat kuhampiri dalam penglihatan."

"Seperti penglihatan yang kadang melintas sekejap di ruang pandangku selama ini?"

"Ya, sebuah terawang yang muncul saat kita bersehati penuh dengan semesta. Itu adalah karunia bagi setiap insan. Namun, tak semua sedia memelihara kepekaan berselaras dalam harmoni alam guna merengkuh sebersit kearifan membaca sasmita [2]."

"Termasuk anak kita sehingga bangkit amarahnya pada saudara sedarahnya sendiri?"

"Termasuk anak kita," keluh si lelaki.

"Mengapa tak kauajarkan semua ini kepadanya? Kepadaku pun baru kaukatakan sekarang, setelah sekian lama," protes si perempuan agak keras.

"Kearifan bukanlah ujud lain pengetahuan. Dia datang bersama dengan munculnya kerendahhatian setelah pengetahuan lebih dulu menghampirinya. Ketika anak kita menengarai perbedaan ritualnya dengan ritual saudaranya, sesungguhnyalah saat itu kearifan sedang mengetuk hati dan pikirannya. Hanya dia sendiri yang layak memutuskan apakah membukakan pintu bagi kearifan untuk bersemayam dalam dirinya ataukah menutup pintu itu sekali untuk selamanya. Tak ada hakku memilihkan masa depannya. Anak-anak kita bukanlah anak-anak kita, melainkan anak-anak kehidupan yang melesat bagai anak panah ke masa depan yang tidak bisa kita kunjungi [3]."

"Maksudmu, semua peristiwa di masa depan belum tersuratkan sejak purba?"

"Semua yang ada di masa depan bersebabkan semua yang ada di masa lampau serta masa kini."

"Jadi, masa depan adalah konsekuensi atas pilihan-pilihan kita dan bisa berubah jika kita berkehendak?"

"Siapatah yang bisa menggariskan masa depan? Masa depan justru akan sangat menggairahkan ketika meniti di atas ketidakpastian," sahut si lelaki dalam retorika. "Itu sebabnya nasib seseorang tak akan berubah apabila orang itu tak mengubahnya sendiri [4]."

Burung gagak di pucuk pohon ara kering masih memiringkan kepalanya, tak jemu menyimak percakapan maupun keheningan mereka. Dia tidak perlu terlalu lama menanti, sebab perempuan lalu berbicara lagi. Kali ini suaranya amat datar. Matanya menatap lurus seakan sedang mengintai sesuatu di kejauhan.

"Ada banyak orang. Kacau. Hingar. Sebagian mengejar sebagian lain. Mengusir. Mendera. Antara lelaki dengan lelaki. Terhadap anak-anak, perempuan, orang tua. Kudengar jerit dan tangis. Kulihat luka dan kematian. Darah tertumpah. Merah. Api menyala. Membara. Ada yang tersungkur. Meregang nyawa. Seperti yang terjadi pada anak kita. Persis seperti anak kita. Mati. Mati..." [5]

Setelah beberapa jenak, cahaya kembali ke bola mata perempuan itu. Matanya berkejap-kejap, seperti ada sesuatu yang mengganggu pandangannya. Perlahan dia menyeka matanya. Sebutir air bening menggelantung di ujung jarinya. Dipandanginya lekat-lekat. Pelan-pelan butir air itu pecah dan mengalir membasahi jarinya.

"Sesak kurasa. Perih dalam dada ini sesakit persalinan. Walau air dari mataku ini serupa dengan yang keluar saat kudengar suara pertama anak kita dulu, aku tahu pasti bahwa keduanya menorehkan rasa yang amat berbeda."

"Kelahiran dan kematian adalah simpul-simpul terujung titi kehidupan. Pada keduanya terpatri sukacita paling jujur maupun nestapa paling murni. Di antara kedua simpul itu, sukacita dan nestapa silih berganti menghadirkan bermacam hakikat dan topengnya. Melalui pergiliran keduanyalah kehidupan menjangkarkan makna."

"Lalu, apa hak sah seseorang menghela titi hidup orang lain ke dalam api dan kematian?"

"Orang kerap menyangka bahwa sebutir berlian tafsir kebenaran adalah liontin kebenaran itu sendiri. Padahal, untuk menguntai liontin, tak cukup satu berlian. Dan tak satupun berlian yang sepenuhnya sama dengan yang lain. Di sisi lain, tafsir kebenaran bagaikan seekor naga yang senantiasa gelisah mencari pijakan ajek. Dia tak lelah menggali, membongkar, bahkan menjungkirbalikkan segala sesuatu. Kadang dia ramah pada perbedaan, namun tak jarang teramat bengis terhadap semua yang merintanginya. Semua berpulang pada sang penunggang naga pengetahuan itu."

"Sekeping kebenaran yang diperumit oleh pengetahuan, didaku sebagai kebenaran hakiki."

"Padahal, kebenaran hakiki justru adalah yang paling bersahaja. Sesederhana pengakuan bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Tak ada tuntutan kebenaran yang melampaui itu. Manusialah yang acap mengubahpaksa kebenaran menjadi taring tajam pembedaan sehingga gagal menemukan dirinya yang paling murni dan utuh dalam diri manusia lain. Sebagian orang memaknai hakikat kebenaran sebagai nilai-nilai yang berpihak padanya. Padahal, tak seorang pun yang sanggup merengkuh inti kebenaran itu sendiri."

"Kalau saja mereka paham bahwa kebenaran selalu tampil dengan wajah berbeda akibat perbedaan cermin hati dan akal mereka, tentu tak seorang pun akan angkuh memuliakan tafsir kebenarannya berlaku mutlak bagi semua orang."

"Detak waktu dan bentang jarak kuasa mengikis kesadaran paling purba akan ketidaklengkapan pribadi tanpa kebersamaan. Akibatnya, orang menyangka bahwa dirinya paripurna, sebagai perwujudan ketunggalan adikodrati yang tak memiliki padanan, sekutu, maupun seteru. Mereka merasa berhak —bahkan wajib— meniadakan semua yang bertentangan dengan kemandirian kemahatunggalannya."

"Mereka tidak lebih dari perampok yang mengangkangi hak memaknai kebenaran!"

"Bagaimanapun, mereka adalah keturunan kita."

"Kau tak merasakan sesak dan sakit yang kurasakan saat menampak masa depan," gerutu si perempuan.

"Bagaimana mungkin aku tak merasakan apa yang dirasakan belahan jiwaku?" balas si lelaki setengah mesra.

Perempuan itu menyunggingkan senyum paling indah yang setara intipan hangat mentari pagi dari balik bukit.

"Mungkinkah semua itu karena kita sudah mencampakkan sebagian pengetahuan mengenai kebenaran di taman yang kita tinggalkan, sehingga pengetahuan mereka perihal kebenaran tidak lengkap, bahkan ternoda?"

"Buah pengetahuan yang kita kupas dan cecap telah membebaskan segala kemungkinan —yang baik maupun buruk— ke dalam kehidupan. Setimpal dengan hak istimewa kita mengambil putusan berdasarkan kehendak bebas kita, yang bahkan malaikat pun tak berani memintanya."

"Dan, di masa depan, keturunan kita akan menuturkan legenda kotak Pandora," sambut si perempuan sambil tersenyum. "Untunglah kita masih diberi kesempatan membebaskan pengharapan sebelum selubung buah pengetahuan itu ditautkan kembali, sehingga keturunan kita kelak tak kehilangan daya juang, meski pada akhirnya harus tetap bertelut kalah."

"Dan akulah orang pertama yang menikmati pengharapan itu ketika kauhadapi si ular tua," sahut si lelaki setengah meringis.

Keduanya lantas tertawa seakan semua beban sudah terangkat seketika.

"Tidak bolehkah kita menyampaikan kebenaran ini kepada keturunan kita agar mereka tak mengulangi kebodohan yang sama dengan yang dilakukan anak kita?" tanya si perempuan.

"Kita pun bukan manusia sempurna. Kebenaran sempurna macam apakah yang bisa disampaikan oleh manusia tak sempurna?"

"Mereka jauh lebih tak sempurna walau mendaku sempurna!"

"Itu sebabnya di masa depan akan datang banyak utusan yang menguak serta mengajarkan kebenaran, selapis demi selapis, guna mengingatkan manusia akan ketidaksempurnaan mereka jika tanpa kebersamaan."

"Mengapa bertahap? Tidak secara gamblang dan tuntas?"

"Tak seorang pun yang akan sanggup menanggungnya. Kelak, saat seorang penguasa mengajukan pertanyaan ‘Apakah kebenaran itu?’ kepada seorang utusan, jawaban yang diberikan utusan itu hanyalah diam [6]."

"Diam?"

"Ya. Diam. Kebenaran hakiki tidaklah muncul dari keriuhan. Tidak dari gelegar guntur, taufan dahsyat, maupun genderang perang. Tunasnya muncul dalam hening semilir angin tatkala semua atribut —bahkan seluruh tafsir kebenaran— ditanggalkan. Kebenaran bersedia menyingkapkan diri hanya jika manusia rela membuka diri sepenuhnya dan berlutut dalam pengakuan keterbatasannya. Sebab, jalan kebenaran bukanlah dari luar ke dalam, melainkan dari dalam ke luar. Dari ketelanjangan yang paling asasi."

"Jadi, kebenaran itu sesungguhnya telah ada dalam diri manusia?"

"Itulah warisan paling berharga kita pada keturunan kita."

"Sayangnya, tak sedikit orang yang jumawa mengingkari hak waris tersebut. Betapa pedih melihat banyak keturunan kita yang bercuriga pada kebenaran bersahaja yang tidak gemerlap dan gegap-gempita. Akibatnya, mereka harus menjalani pertikaian paling riuh dan brutal maupun dendam paling senyap dan mengiris."

"Demikianlah perjanjian yang sudah kita buat dengan semesta tatkala kita putuskan memiliki kehendak bebas. Kita sendirilah yang akan menetapkan masa depan kita. Walau keturunan kita banyak yang kerap membuatnya demikian suram."

Lelaki itu terdiam. Perempuan itu terdiam. Betapa menyakitkan memiliki pengetahuan dan sekeping kebenaran.

Langit masih muram. Sepasang kupu-kupu bersayap kuning berbintik ungu melayang bersama. Burung gagak di atas pohon ara kering sudah menghilang sejak tadi. Mega tembaga di langit beringsut sedikit menyisakan sebuah lubang kecil di tengahnya. Sebutir air menetes melaluinya, jatuh tepat di atas sehelai daun zaitun pada ranting yang tertancap di ujung gundukan tanah bercampur lempung kuning, lalu menghunjam tanpa ragu ke tanah. Sepi pun serta-merta menyergap petang. Sepasang lelaki dan perempuan beranjak. Ke Timur. Kian ke luar taman yang tidak lagi berhak mereka tinggali. Menyongsong masa depan yang belum dipastikan.

— PinAng: Kamis, 10 Juli 2008 22:44

[*] inspirasi judul dari film "East of Eden" yang dibintangi oleh Julie Harris dan James Dean
http://en.wikipedia.org/wiki/East_of_Eden_(1955_film)

[1] merenungkan filsafat Hindu "Tat Tvam Asi"
http://genpositif.org/Global/Agung Putu/index.html.html

[2] mengingat "The Celestine Prophecy" karya James Redfield
http://www.thecelestineprophecymovie.com/insights.php

[3] mengkaji puisi "On Children" karya Gibran Kahlil Gibran
http://www.katsandogz.com/onchildren.html

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.

You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them,
but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.

You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let our bending in the archer's hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable.

[4] menyadur al-Qur’an QS ar-Ra’d 13:11

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

[5] menyaksikan tragedi Monas 1 Juni 2008
http://www.youtube.com/watch?v=AlMnli0jcp4&feature=related

[6] mengutip Injil Yohanes 18:38a
http://sabdaweb.sabda.org/bible/verse/?b=43&c=18&v=38

 

Saya mengalami kesulitan besar memangkas dan menautkan kata mengejar batas maksimal 10.000 karakter akibat salah ingat, menyangka 10.000 kata. Membuang cukup banyak alinea ibarat melakukan mutilasi terhadap untaian tema yang telanjur telah dituliskan. Inilah jadinya, sebuah tulisan compang-camping hasil pembantaian dari sebuah prosa liris.

Meski sudah berupaya keras, ternyata hasilnya masih saja melampaui batas maksimal karakter. 12.600 karakter jika catatan kaki dimasukkan, 11.138 karakter tanpa catatan kaki (semuanya tanpa memperhitungkan karakter kosong antarkata). Secara administratif, saya sudah terkena diskualifikasi. Saya tidak sanggup berbuat lebih :-(

# catatan kaki