Versi cetak

Kamis, 27 Oktober 2005 04.59

Trinitas

— Eureka atau Reka-reka?

Trinity
Trinity
by Andrei Rublev

Trinitas? Waduh!

Tidak mudah, memang, menyoal Allah Trinitas yang diimani oleh arus-utama kekristenan. Memikirkannya saja bisa membuat kepala berdenyut-denyut keras bak kena migrain, apalagi menjelaskannya untuk dimengerti.

Jangankan kepada mereka yang nonkristen (terlebih-lebih yang skeptis dan apriori terhadap ajaran Kristen), bahkan kepada sesama Kristen yang iman gerejanya jelas-jelas berdiri di atas landasan Trinitas pun belum tentu memuaskan keduabelah pihak. Baik yang memberi maupun yang menerima penjelasan, sama-sama lebih kerap dilanda keruwetan yang menjengkelkan.

Sebelumnya, haruslah saya katakan bahwa doktrin Trinitas bukan bermula dari inisiatif gereja yang hendak merumuskan imannya. Mirip proses kanonisasi Alkitab yang dipicu oleh terbitnya berbagai kompilasi tulisan berdasarkan pandangan dan kepentingan tertentu, doktrin Trinitas pun lahir akibat keterpaksaan gereja mempertahankan diri (berapologetika) melawan berbagai gempuran pemikiran yang berasal dari dalam dan luar gereja.

Dari dalam gereja sendiri lahir berbagai penafsiran mengenai keilahian Yesus dan Roh Kudus. Sedangkan di luar gereja, hadir kepungan sporadis dari monoteisme absolut agama tradisional Yahudi, budaya politeistis Greko-Roman (Yunani-Romawi), filsafat Yunani (Plato, Neoplatonis, Stoa), maupun beragam gnostisisme yang mengedepankan ilmu pengetahuan sebagai jalan pembebasan mengenai misteri keberadaan (eksistensi) manusia.

Apa yang sebenarnya dipersoalkan dalam diskursus teologis tersebut?

Tidak lain adalah mempertahankan prinsip bahwa ajaran Kristen berdiri di atas prinsip monoteisme.

Adapun titik kritis yang menjadi pangkal perdebatan ialah perihal adanya 3 Pribadi ilahi —Bapa, Anak, dan Roh Kudus— yang senang-tidak-senang bisa memerosokkan ke kesimpulan bahwa kekristenan adalah agama triteis (3 ilah) yang nota bene sama saja dengan politeisme.

Akibatnya, para cendekiawan Kristen di masa lalu yang adalah teolog pun terpaksa bertukar jubah menjadi pembela/apologet iman. Dan di masa kini, dalam interaksinya di masyarakat, bahkan orang Kristen awam (nonteolog) pun terpaksa menjadi apologet ketika hal ini dipertanyakan oleh sesamanya yang Kristen maupun nonkristen, baik yang sungguh-sungguh bertanya maupun yang bermaksud mencari-cari kelemahan guna menyudutkan.

Lalu, monoteisme macam apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh gereja?

Banyak buku sudah ditulis, banyak ragam penjelasan sudah dipaparkan, banyak sisi pandang teologis sudah dibangun. Namun, saya sangsi ada orang yang sanggup mengajukan klaim bahwa dilema Trinitas sudah selesai.

Dalam tulisan ini saya tidak berniat mengurai kembali kisah panjang perumusan doktrin Trinitas yang sudah memakan banyak waktu, energi, maupun korban [anatema/pengutukan, ekskomunikasi, bahkan eksekusi!]; yang carut-marutnya terwarisi hingga kini, seperti skisma/perpisahan Gereja Latin di Barat dan Gereja Yunani/Ortodoks di Timur, maupun munculnya berbagai denominasi/aliran serta sekte heretis yang kemudian dinyatakan sesat/bidat.

Untuk rinciannya, tersedia bertimbun literatur yang akan terus bertambah hingga akhir jaman dengan sudut pandang masing-masing. Sehingga perlulah dicamkan petuah sakti rekan Mula Harahap di milis hkbp yang kerap dirapal bak mantera oleh sepupu-sepupu saya, "Bahat tuhor hamu buku i, jala jaha hamu" (untuk terjemahan yang pas, silakan tanya kepada orang Batak Toba. Terjemahan bebasnya kira-kira, "Baca tuh buku banyak-banyak" :-) ).

Sebagaimana saya maklumi (dan kiranya juga oleh banyak orang Kristen lainnya), Allah adalah misteri (bukan persoalan/problem yang harus dipecahkan!) yang tak kunjung bisa dipahami dalam artian tuntas terdefinisi (definisi sendiri bagai pisau bermata dua: menjelaskan sesuatu secara spesifik sehingga terbedakan dengan yang lain, namun di sisi lain berarti melakukan pembatasan yang bisa memerangkap ke dalam kepicikan).

Salah satu cara yang kerap digunakan guna menjelaskan keberadaan Allah adalah dengan analogi/perbandingan. Namun, perlu saya ingatkan sejak dini, bahwa analogi hanya bersifat sebagai tanda atau petunjuk belaka. Sedangkan yang ditunjuknya jauh lebih besar dan lebih kompleks ketimbang apa yang mampu dimuat oleh tanda tersebut. Dengan demikian, tidak pada tempatnyalah analogi dimaknai sebagai kesimpulan akhir perihal apa yang hendak ditunjuk.

Contoh analogi yang terkenal [di dunia teologi] adalah seperti yang diajukan Santo Agustinus (354 — 430 ZB) yang secara paradoksal memanfaatkan senjata lawan, yakni filsafat platonis Yunani, dalam karya agungnya De Trinitate:

1. Pikiran, pengetahuan, cinta (mens, notitia, amor)

Pikiran mengetahui dan mencintai, pengetahuan mengandaikan pikiran dan cinta, cinta mencakup pikiran dan pengetahuan. Ketiganya membentuk jiwa manusia, yang selalu merupakan kehidupan dan aktivitas manusia dalam keserentakan yang sempurna dari aksi dan keberadaan.

2. Ingatan, budi, kehendak (memoria, intelligentia, voluntas)

Seseorang tidak bisa mengingat jika tidak menghendaki dan tidak mengerti, dia tidak mengerti jika tidak menghendaki dan tidak mengingat, dia tidak menghendaki jika tidak mengerti dan tidak mengingat.

3. Hampir satu milenium berikutnya, si gemuk jenius Thomas dari Aquinas (1224 — 1274 ZB) mengembangkan sistem Trinitaris yang logis dalam magnum opus Summa Theologiae. Dengan memanfaatkan filsafat Yunani aristotelian, Thomas bertolak dari hakikat keilahian yang menyatukan ketiga Pribadi itu, lalu mencermati apa yang muncul dari kesatuan itu dengan menggunakan analogi "pikiran" Agustinus: sebagaimana Dia adanya (Bapa), Dia mengetahui (Sabda, Anak), dan Dia mencintai (hadiah, Roh Kudus).

Ah, terlalu filosofis! Kita kan bukan teolog-filosof jenius seperti Santo Agustinus dan Thomas Aquinas.

Baik. Saya pun tidak berhasrat mengurai pemikiran Agustinus maupun Thomas Aquinas yang memang sulit (sehingga buku mereka pun tebal-tebal!), ataupun para pujangga gereja serta para teolog modern. Lebih baik saya tinjau beberapa analogi populer yang masih kerap digunakan orang hingga kini.

1. Telur: kulit, putih telur, kuning telur

Ketiganya memang menjadi satu pada sebutir telur. Tetapi, jika dipisahkan, masing-masing tidak bisa dipandang sebagai telur lagi, sebab ketiganya tidak memiliki satu asas yang menjadikan mereka sama secara mendasar.

Analogi ini mengundang bahaya triteisme, dimana 3 ilah yang pada dasarnya berbeda dan terpisah kemudian bergabung menjadi satu.

Yang pasti, kalaupun ada, amatlah jarang orang memakan kulit telur. Bahkan, tidak semua orang suka pada putih telur dan kuning telur keduanya. Apalagi ketiganya sekaligus! Alhasil, pepatah Prancis —yang setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi— "You can't make an omelet without breaking eggs" dapat saya tafsirkan lain, bahwa kita baru bisa memahami Allah setelah konsep Trinitas dipecah-pecahkan terlebih dahulu. Celaka nian!

2. Matahari: nyala, panas, cahaya

Sama seperti telur, analogi ini tidak menunjukkan kesamaan hakikat bagi ketiganya, sehingga rentan terhadap sergapan triteisme.

Selain itu, pada kenyataannya, di luar angkasa antara bumi dan matahari, kondisinya malah gelap dan dingin. Di sana pancaran matahari bukan berupa cahaya dan panas, melainkan radiasi yang tidak terdeteksi indra. Sehingga, dalam analogi ini, terjadi diskontinuitas/keterputusan yang menyebabkan Allah kehilangan sifat mahahadir (omnipresent) dan kekekalannya.

3. Segitiga samasisi

Analogi yang memberikan gambaran terciptanya bidang 2 dimensi yang dibentuk oleh tiga titik identis dengan sudut yang sama ini pun masih menyisakan persoalan, yakni tidak-bersamanya ketiga titik. Selain itu, walau garis yang menghubungkan ketiga titik tersebut dipandang sebagai relasi satu sama lain, garis tersebut juga menandakan adanya jarak antartitik.

Keterpisahan tiga titik tersebut masih dinaungi awan triteisme juga.

4. Air: cairan (air), padatan (es), uap

Analogi ini cukup bagus. Masing-masing wujud tersebut memiliki kesamaan mendasar, yakni dapat dinyatakan dengan simbol kimia H2O.

Sayangnya, kesetimbangan ini hanya bisa terjadi pada temperatur kritis triple point 273,16 K (0,01°C) dan tekanan 611,2 Pascal (sekitar 150 kali lebih rendah daripada tekanan normal barometris permukaan laut 101.300 Pa). Dan walau disebut berada dalam kesetimbangan, sesungguhnya masing-masing wujud tersebut berada dalam keadaan tidak stabil. Perubahan temperatur yang kecil sudah dapat mengubah satu wujud ke wujud lain dalam tempo singkat.

Karena keberadaan mereka dalam kondisi kritis ini tergantung pada faktor eksternal, maka analogi ini merisikokan hilangnya independensi mutlak Allah yang tanpa asal (sebab) maupun kekekalan-Nya.

5. Manusia: suami (bagi istri), bapak (bagi anak), karyawan (di perusahaan)

Walau tegas nuansa monoteismenya, analogi ini dibayang-bayangi ketat oleh pemahaman Modalisme yang sejak berabad-abad lalu sudah disingkirkan gereja. Paham ini menyatakan bahwa Allah yang esa dan tunggal menampakkan diri-Nya melalui 3 cara (modus) pewahyuan. Atau, Dia tampil dalam 3 rupa (prosopa, topeng) dan berdiam di tengah kita dengan 3 cara berbeda (idia perigraphe).

6. Three in one

Memangnya aturan lalulintas di beberapa jalan protokol Jakarta? :-)

7. Lain-lain

Kalau analogi yang ini bermasalah dan yang itu tidak tepat, lalu bagaimana?

Trinity Most Holy
Trinity Most Holy
mgr.org

Agar tidak lebih pusing menyoal teologi dan filosofi, saya rasa lebih baik jika saya ceritakan satu kisah biasa yang bisa terjadi pada siapa saja. Walau tiada niatan mematahkan mitos Trinitas (memangnya siapa saya sampai begitu jumawa?), semoga kisah ringan di bawah ini dapat memperkaya analogi Allah Trinitas hingga tidak terlalu mengawang.

ONCE UPON A TIME ...

Ada seorang lelaki muda yang tertambat hatinya pada seorang perempuan muda yang tinggal di kota lain sejarak 1000-an kilometer dari tempat tinggalnya.

Di masa yang belum mengenal email dan layanan pesan singkat (short messages service/SMS), tiada yang bisa digunakan sebagai titian penaut hati kecuali telpon (yang biaya interlokalnya tentu mencekik dompet tokoh kita yang masih mahasiswa) dan surat (nyaris seminggu sekali si perempuan menerima sekitar 10 lembar kertas A4 bertulisan bolak-balik, sehingga kakak si perempuan menyebutnya "koran cinta").

Arkian, tibalah Valentine's Day alias Hari Kasih Sayang, yang lazim menjadi kesempatan mengungkapkan rasa kasih pada orang lain dalam bentuk hadiah.

Para remaja baru gede yang baru memasuki masa puber biasa memberi coklat atau permen berbentuk hati. Yang berlagak romantis, mengirim kembang. Yang mau intelek, membingkis buku ataupun cakram lagu atau film yang mengesankan. Dan yang merasa setaraf para pesohor ataupun hartawan kelas dunia, memberi hadiah berlian, mobil, rumah, barang langka, ataupun ujud kemewahan lain.

Walau sangat kontras secara finansial, maknanya tidaklah berbeda. Baik coklat Beng-Beng maupun berlian Koh I Noor sama-sama menjadi ungkapan tulus dan terdalam perihal kemanisan, keindahan, kemurnian, dan keagungan cinta.

Apa yang dilakukan tokoh kita?

Dia sudah kerap mengirim lukisan guratan tangannya sendiri yang menuangkan perasaannya yang terdalam, serta seluruh kecemasan dan harapannya. Apa lagi yang bisa membuat Valentine's Day kali ini berbeda dan istimewa?

Tanpa banyak pikir, dikemasinya ransel perjalanan. Dengan kereta api kelas ekonomi yang gerah, ditempuhnya 1000 kilometer jarak pemisah mereka.

Sudah barang tentu kehadirannya pada siang bolong yang amat terik di depan pintu rumah si perempuan menjadi sebuah kejutan. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa hadiah Hari Kasih Sayang itu adalah sang kekasih sendiri.

Kata sahibul hikayat, selama cinta bertahta di hati mereka, tiada lain yang meraja selain kebahagiaan bagi mereka berdua.

... THE END

Apa sih maksudnya? Tidak mengharukan sama sekali, ah ... (Oh, maaf, bagian-bagian pedihnya sudah saya babat. Menghemat bandwith :-).)

Sejak mula, Allah <tokoh kita> mengasihi manusia <kekasih>. Jarak <1000 km> yang terentang sejak manusia keluar dari Eden, Allah jembatani melalui <telpon> nabi dan <surat> petunjuk yang kini kita kenal sebagai kitab suci.

Namun, walau seberapa pun rinci <tebal> wahyu yang disampaikan maupun sekian banyak <lukisan guratan tangan> rahmat yang dicurahkan-Nya, manusia masih saja kerap sangsi akan —atau malah lancang menguji— kesetiaan kasih Allah.

Panjang sabar, Allah <datang> menyampaikan diri-Nya sendiri pada manusia sebagai karunia yang tak tertandingi oleh apa pun.

Sebagaimana tokoh kita yang "Dalam dan atas nama cinta, kupersembahkan diriku seutuhnya sebagai hadiah bagimu sebab kaulah yang paling kukasihi", maka Allah AKU ADA (bdk. Kel 3:14) pun jadi nyata saat mengaruniakan diri-Nya kepada manusia selaku ciptaan paling berharga di mata-Nya.

AKU MEMBERIKAN DIRIKU. Itulah gagasan yang bisa saya tarik dari kisah di atas.

Secara Trinitas Ekonomis (hubungan Allah Trinitaris dengan ciptaan-Nya), analogi ini menggambarkan:

  1. PEMBERI, yakni Bapa.
  2. proses MEMBERI, dimana tindakan tersebut (penyataan, pewahyuan) bukan lagi dalam bentuk kata-kata, melainkan mencapai kulminasinya dalam inkarnasi firman/sabda menjadi manusia Yesus (bdk. Yohanes 1:14).
  3. yang DIBERIKAN, yakni Roh Kudus yang diutus Bapa dalam nama Yesus (bdk. Yohanes 14:26).

Adapun secara Trinitas Imanen (hubungan Allah Trinitaris dalam diri-Nya sendiri), analogi ini menyatakan bahwa ketiganya saling mengandaikan (menyatakan, mensyaratkan) keberadaan satu sama lain:

  1. tiada PEMBERI tanpa adanya proses memberi dan yang diberikan.
  2. tiada proses MEMBERI tanpa adanya pemberi dan yang diberikan.
  3. tiada yang DIBERIKAN tanpa adanya pemberi dan proses memberi.

(bandingkan dengan analogi "pikiran" dari Santo Agustinus)

Fenomena istimewa pada ketiganya adalah "satu dalam yang lain, satu dengan yang lain, satu dari yang lain, satu untuk yang lain" dalam persekutuan yang serentak terjadi tanpa pengurutan waktu, bersifat kekal, dan selalu ada bersama-sama dalam segala hal; yang dinyatakan dengan beberapa istilah:

  1. Perikhoresis (Yunani): setiap Pribadi mengandung kedua Pribadi yang lain, setiap Pribadi meresapi yang lain, satu tinggal dalam yang lain, begitu juga sebaliknya.
  2. Circuminsessio (Latin): saling berada satu dalam yang lain, yang sifatnya statis atau ekstatis.
  3. Circumincessio (Latin): peresapan aktif satu sama lain.

Tak perlu kita kutubkan Trinitas Ekonomis dan Imanen sedemikian hingga mutlak terpisah. Seturut aksioma Karl Rahner, "Trinitas Ekonomis adalah Trinitas Imanen, demikian pula sebaliknya", ketiganya terlibat penuh satu sama lain, dalam diri-Nya sendiri maupun dalam hubungan-Nya dengan manusia.

Satu-satunya hal paling wajar yang dapat saya bayangkan dalam memahami fenomena unik aku memberikan diriku yang terpancar dalam diri tokoh kita serta relasi dengan kekasihnya adalah cinta tanpa batas dan tanpa syarat.

Seperti yang kerap dituturkan lewat puisi atau kidung cinta. I love you just the way you are. Cinta menyanggupkanku mencintai keberadaan diriku sekaligus dirimu sebagaimana adanya. I love you more than you'll ever know. Cintaku padamu melampaui kesanggupanmu untuk mengerti. Maupun yang secara hiperbolis terungkap dalam syair rakyat, "gunung 'kan kudaki, lautan 'kan kuseberangi, hujan-badai bukan rintangan langkahku kepadamu".

Demikianlah Allah Trinitaris. Dia mencintai kita apa adanya, tanpa batas dan tanpa syarat, melampaui pengertian kita tentang-Nya, menerabas semua rintangan. Dan dalam kekekalan-Nya, setiap saat adalah Valentine's Day, sehingga setiap saat pula Dia karuniakan diri-Nya dalam relasi antarpribadi ilahi Trinitas Imanen maupun terhadap ciptaan-Nya dalam Trinitas Ekonomis.

Apakah cinta seperti itu hanya terjadi pada mereka yang berkasih-kasihan?

Ya! Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai yang dapat memberikan diri sepenuhnya kepada orang lain sekaligus menerima orang lain sepenuhnya. Namun, yang saya maksud bukan sebatas sepasang kekasih sedang kasmaran.

Sebagaimana Allah mengasihi dunia ini hingga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal demi keselamatan manusia (bdk. Yohanes 3:16), begitu selayaknya perilaku kita selaku citra Allah (bdk. Kejadian 1:27). Suami-istri, orangtua-anak, lelaki-perempuan, individu-masyarakat, manusia-lingkungan, pemerintah-rakyat; semuanya adalah cermin analogis Allah Trinitaris yang mewahyu dalam segala sesuatu, dimana Allah menjadi semua di dalam semua (bdk. 1Korintus 15:28).

Dan Yesus meradikalkan bahwa cinta sejati adalah ketulusan yang [mau terus] mencintai [walau] hingga terluka, bahkan merisikokan nyawa (bdk. Yohanes 15:13), halmana merupakan kewajiban yang diberlakukan kepada semua orang Kristen terhadap sesamanya (bdk. 1Yohanes 3:16).

Maka, menurut saya, hanya cinta yang dapat menghantarkan kita kepada Allah Trinitaris [sebatas kemampuan manusia]. Sehingga, pantaslah jika penulis surat 1 Yohanes menyatakan, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (4:8); dan secara jitu dikumandangkan dalam devosi khidmat Santo Agustinus, Vides trinitatem, si caritatem vides! (anda menyaksikan Trinitas jika anda menyaksikan cinta!).

Tanpa ketiganya, kita tidak mengenal karunia. Sementara dalam Perjanjian Baru karunia nyaris selalu sinonim dengan cinta.

Apakah dengan begitu misteri Trinitas sudah selesai?

Sebagaimana telah saya singgung, analogi adalah tanda yang tidak identik dengan apa yang mau ditunjuknya. Semua analogi tentang misteri akbar itu hanyalah upaya agar kita tidak hanya berdiam diri dalam merefleksikan dan menghayati iman, dengan menyadari demikian miskin bahasa manusia untuk menjelaskan.

Puncaknya, kita hanya bisa diam dalam khusuk tafakur. Kontemplasi dalam ketakjuban yang tak lagi mampu kita ungkapkan. Seperti ditulis Rasul Paulus dalam 2Korintus 12:4 perihal kata-kata yang tak terkatakan dan yang tidak boleh diucapkan manusia, demikian pula Santo Agustinus menegaskan kredo si enim comprehendis, non est Deus (Allah yang bisa dijelaskan bukanlah Allah).

Menyitir Rudolf Otto, bagi saya Dialah satu-satunya Allah yang mysterium tremendum et fascinans. Misteri dan menggentarkan. Misteri bukanlah sesuatu yang memerlukan pemecahan, melainkan dihayati dan dihidupi melalui keseharian, dalam kegentaran dan kegairahan yang senantiasa bernyala-nyala (bdk. Filipi 2:12, Roma 12:11).

Seperti perempuan muda dalam kisah di atas, di hadapan kedahsyatan cinta Allah Trinitaris yang tak putus dan tak berkesudahan seperti itu, tiada yang dapat saya lakukan selain menyerah luluh sepenuhnya masuk dalam rengkuhan-Nya.

Dengan diam aku bertelut di hadirat-Mu, ya Allahku.
Di atas segala luka, cemas, dan harap,
kuguratkan nama-Mu di hatiku:
Bapa dan Anak dan Roh Kudus.
Amin.

— Beth: Kamis, 27 Oktober 2005 04:59

0 tanggapan:

# catatan kaki