/* ----- added by alof: [ EXPAND-COLLAPSE ] ----- */ /* ----- end ----- */

Sabtu, 03 September 2022

Hikayat Tujuh Purnama

#aiglOnceUponATime

Tak sekejap pun diangkatnya wajah untuk menatapku yang duduk tak sampai 1 meter di depannya meski beberapa kali kulambaikan tangan sebagai isyarat memohon perhatian. Matanya tanpa jeda tertuju pada layar laptop di hadapannya yang tampak sedemikian penting tinimbang keberadaanku.

Mᴀsɪʜ sᴀɴɢɢᴜᴘ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴋᴜᴛᴀʜᴀɴᴋᴀɴ
Mᴇsᴋɪ ᴛᴇʟᴀʜ ᴋᴀᴜ ʟᴜᴍᴀᴛᴋᴀɴ ʜᴀᴛɪ ɪɴɪ
Kᴀᴜ sᴀʏᴀᴛ ʟᴜᴋᴀ ʙᴀʀᴜ ᴅɪ ᴀᴛᴀs ᴅᴜᴋᴀ ʟᴀᴍᴀ
Cᴏʙᴀ ʙᴀʏᴀɴɢᴋᴀɴ ʙᴇᴛᴀᴘᴀ sᴀᴋɪᴛɴʏᴀ

Nyaris seperempat hari penuh aku terhenyak laksana pengidap kusta atau mungkin seonggok nista yang tak layak dipandang sebagai manusia. Perbincangan pendek-pendek yang terasa amat dipaksakan pun hanya meruapkan dalih keengganan menyimak, konon pula menjelaskan. Belum pernah sebelumnya dalam hidup kualami penihilan setelak ini. Hampa mutlak. Kehilangan segala.

Hᴀɴʏᴀ Tᴜʜᴀɴʟᴀʜ ʏᴀɴɢ ᴛᴀʜᴜ ᴘᴀsᴛɪ
Aᴘᴀ ɢᴇʀᴀɴɢᴀɴ ʏᴀɴɢ ʙᴀᴋᴀʟ ᴛᴇʀᴊᴀᴅɪ ʟᴀɢɪ
Bᴇɢɪᴛᴜ ʙᴜʀᴜᴋ ᴛᴇʟᴀʜ ᴋᴀᴜ ᴘᴇʀʟᴀᴋᴜᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ
Iʙᴜ ᴍᴇɴᴀɴɢɪsʟᴀʜ ᴅᴇᴍɪ ᴀɴᴀᴋᴍᴜ

Bertimbun kisah yang ingin kututurkan gamblang. Tentang ikhtiar dan kegagalan yang mendera belakangan ini, yang memantik anggapannya bahwa aku berubah. Tak diketahuinya liku petaka yang meluluh lantakkan sebentuk mimpi di mana dirinya tertahbis sebagai episentrum ruang benderang setelah kukibas ragam janji dan pesona yang kutengarai bisa menggerus arti hadirnya.

Sᴇᴍᴇɴᴛᴀʀᴀ ᴀᴋᴜ ᴛᴇɴɢᴀʜ ʙᴀɴɢɢᴀɴʏᴀ
Mᴀᴍᴘᴜ ᴛᴇᴛᴀᴘ sᴇᴛɪᴀ ᴍᴇsᴋɪ ʙᴀɴʏᴀᴋ ᴄᴏʙᴀᴀɴ
Bᴇɢɪᴛᴜ ᴛᴜʟᴜsɴʏᴀ ᴋᴜʙᴜᴋᴀ ᴛᴀɴɢᴀɴᴋᴜ
Lᴀɴɢɪᴛ ᴍᴇɴᴅᴜɴɢ ɢᴇʟᴀᴘ ᴍᴀʟᴀᴍ ᴜɴᴛᴜᴋᴋᴜ

Genap satu purnama aku dihempas ke nadir ngarai gulita. Tak kusua secercah pun petunjuk untuk memahami amarahnya bahwa aku tak lagi seperti yang dulu, yang tak pernah palingkan pandang darinya, sehingga dibulatkannya tekad hengkang membawa luka menganga tanpa menyisakan peluang bagiku mengurai kebuntuan yang dirangkainya.

Tᴇʀɴʏᴀᴛᴀ ᴍᴇɴɢᴀɢᴜɴɢᴋᴀɴ ᴄɪɴᴛᴀ
Hᴀʀᴜs ᴅɪᴛᴇʙᴜs ᴅᴇɴɢᴀɴ ᴅᴜᴋᴀ ʟᴀʀᴀ
Tᴇᴛᴀᴘɪ ᴀᴋᴀɴ ᴛᴇᴛᴀᴘ ᴋᴜʜᴀʏᴀᴛɪ
Hɪᴋᴍᴀʜ sᴀᴋɪᴛ ʜᴀᴛɪ ɪɴɪ
Tᴇʟᴀʜ sᴇᴍᴘᴜʀɴᴀᴋᴀɴ ᴋᴇᴋᴇᴊᴀᴍᴀɴᴍᴜ

Setiap kata yang kuutarakan senantiasa ditepis ujar menggentarkan, "Tidak perlu dibahas lagi!". Membuatku gagap bagai seorang pandir minim kosa kata. Serta-merta kusadari tak guna berupaya menata ulang ruang yang telanjur retak. Dan sejurus kemudian aku sudah tercenung di tepi jalan dengan terawang kosong.

Pᴇᴛɪʀ ᴍᴇɴʏᴀᴍʙᴀʀ ʜᴜᴊᴀɴ ᴘᴜɴ ᴛᴜʀᴜɴ
Dɪ ᴛᴇɴɢᴀʜ ᴊᴀʟᴀɴ sᴇᴍᴘᴀᴛ ᴀᴋᴜ ᴍᴇʀᴇɴᴜɴɢ
Mᴀsɪʜ ᴀᴅᴀᴋᴀʜ ᴄɪɴᴛᴀ ʏᴀɴɢ ᴅɪsᴇʙᴜᴛᴋᴀɴ ᴄɪɴᴛᴀ
Bɪʟᴀ ᴋᴀsɪʜ sᴀʏᴀɴɢ ᴋᴇʜɪʟᴀɴɢᴀɴ ᴍᴀᴋɴᴀ

Kendati demikian, sebentuk rasaku padanya, yang kubopong cermat sejak tengah malam tadi, kukuh bergeming. Tak satu serpih pun kikis walau kini berlumur jelaga dan sayatan teramat perih. Kepasrahan menerima segala risiko telah bangkitkan keteguhan, "Akan kurawat ruang benderang di relung hatiku walau kini kosong tanpa dirinya bertahta di mahligainya." Entah satu masa nanti tatkala kearifan ataupun nestapa meraja secara paripurna.

Tᴇʀɴʏᴀᴛᴀ ᴍᴇɴɢᴀɢᴜɴɢᴋᴀɴ ᴄɪɴᴛᴀ
Hᴀʀᴜs ᴅɪᴛᴇʙᴜs ᴅᴇɴɢᴀɴ ᴅᴜᴋᴀ ʟᴀʀᴀ
Tᴇᴛᴀᴘɪ ᴀᴋᴀɴ ᴛᴇᴛᴀᴘ ᴋᴜʜᴀʏᴀᴛɪ
Hɪᴋᴍᴀʜ sᴀᴋɪᴛ ʜᴀᴛɪ ɪɴɪ
Tᴇʟᴀʜ sᴇᴍᴘᴜʀɴᴀᴋᴀɴ ᴋᴇᴋᴇᴊᴀᴍᴀɴᴍᴜ

Sekarang aku hanya ingin pulang ke titik perdana di mana dapat kuresapi segenap nada subtil perbincangan selewat tengah malam, tempat bayangnya melintasi kenang dalam hening setajam belati.

* ilham dari lagu Seberkas Cinta yang Sirna — Ebiet G. Ade *

----- oo00oo -----

Dahulu pernah populer suatu proses kreatif yang dinamai "musikalisasi puisi" dengan Ebiet G. Ade sebagai salah satu tokohnya. Di sini saya coba terapkan pembalikannya menjadi "prosaisasi lagu" 😜

O ya, perlu juga saya sampaikan untuk tak hiraukan foto yang menjadi sampiran. Tak usah pula mereka-reka sosok serta saat kejadiannya, sebab kesamaan cerita hanyalah kebetulan yang tak kuasa dihindari 😊

— PinAng: Sabtu, 3 September 2022