Munich, 15 Maret 2016
|
St. Paul Kirche
|
Kami tiba di hotel yang sudah dipesan jauh-jauh hari dari Jakarta. Sesampai di sana, ternyata pesanan atas nama seorang kawan tidak tersedia. Maka, sibuklah kawan ini berbicara dengan petugas hotel. Sementara kami duduk di sofa dekat meja resepsionis menanti kejujuran eh kepastian.
Kurang jelas apa yang mereka bahas, perbincangan yang semula santai untuk menanyakan alasan hotel tidak memenuhi janjinya, lama-lama kian memanas. Padahal udara terasa makin dingin dan salju mulai bertaburan di luar.
Kawan yang satu ini memang agak temperamental. Saya ingat dia pernah berteriak-teriak keras dalam bahasa Mandarin di pasar Ben Thanh, Ho Chi Minh City, Vietnam, karena merasa sang pedagang tidak memperlakukannya secara layak. Barangkali ada sekitar 1/17 pengunjung pasar yang terkaget-kaget mendengar teriakannya (sebenarnya sih saya gak sempat menghitung, ini perkiraan saja karena saya yang berada beberapa belas meter dari tempatnya pun kaget mengira ada kerusuhan).
Dan saat di hotel Munich ini, sedikit demi sedikit amplitudo suaranya pun kian bertambah sehingga sebagian tamu di lobby sempat menoleh. Tak lupa, tangannya menunjuk-nunjuk petugas hotel sehingga sang petugas dengan agak keras menegurnya agar jangan mengacung-acungkan jari ke mukanya. Untung saja kawan ini tidak menggunakan jari tengah 😜
Sang petugas berusaha keras menjelaskan dan menyabarkannya seraya menyampaikan bahwa mereka sudah memesankan kamar di hotel lain tanpa biaya tambahan. Tentu saja kawan ini tidak senang. Begitu juga kami agak kurang bahagia, yang kami sampaikan dengan ekspresi muka merengut. Wong kami ingin selalu bersama-sama, kok malah dipisah. Lagipula, kawan inilah yang membawa 𝘳𝘪𝘤𝘦 𝘤𝘰𝘰𝘬𝘦𝘳 dan beras yang menjadi andalan ransum selama perjalanan (disinggung dalam kisah Steak Vatikan 😁)
Agar keadaan tidak semakin rusuh, kami menahan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeroyok petugas hotel. Kami bersiaga saja sambil menyimak dialog mereka dalam mencari solusi. Merasa mendapat dukungan dari kami, kawan ini semakin pede dan suaranya kian menggelegar. Bicaranya pun semakin merepet.
Ketika sang petugas masuk ke dalam untuk mengurus sesuatu, kawan ini berbalik menghadap kami seraya bertanya dengan suara pelan, "Bahasa Inggris gue udah bener kan?"
Sontak kami saling pandang dan ngakak bareng. Marah ni yeee... 😂
Ketika kami mengantarnya ke tempatnya, ternyata hotelnya malah lebih bagus dibanding yang kami inapi.
Walau tak semujur Bang Toni Toni P Sianipar dalam urusan hotel, kawan ini termasuk beruntung juga akibat kengototannya. Masih bagus kami tidak melakukan aksi mendengkur bareng di sofa lobby hotel ala Bang Toni 🤣
PinAng: Minggu, 3 Oktober 2021
Berhubung ini adalah celeng liburan, saya sertakan foto bersama celeng yang
nekad berlibur di kota Munich 😊
Kalau di Jakarta, restoran Paulaner tergolong besar dan agak mahal. Di
Munich ini mungil saja ala kios.
Sempat melihat nama resto Uyghur yang agak unik. Namanya "Taklamakan".
Entah maksudnya "tak lah makan" (kesannya malah melarang makan) atau "tak
lama, kan" (cocok untuk resto cepat saji).
Juga ada resto yang saya curigai milik orang Sunda. Namanya dibuat agak
bergaya, LeboQ. Padahal mah tulis aja "Lebok" yang artinya makan (bahasa
kasar). Jangan-jangan ini punya Mang Kabayan.
Ada hotel bernama Batu. Belum sempat bertanya apakah yang punya hotel ini
adalah orang dari Malang.