/* ----- added by alof: [ EXPAND-COLLAPSE ] ----- */ /* ----- end ----- */

Minggu, 02 Agustus 2020

Babad Dukuh Alit Galu #2

Menyatakan Kemustahilan

Munculnya 3 gajah idola di Dukuh Alit Galu tentu saja membuat warga bahagia tak kepalang. Praktis, setiap hari mereka mengunjungi ketiga gajah yang masih dalam pengawasan Kebayan baru.

Namun, kegalauan segera merebak tatkala mereka sadar bahwa maskot dukuh hanyalah 1. Artinya, warga harus memilih 1 dari antara 3. Padahal, mereka sudah telanjur sayang pada ketiganya. Akibatnya, mau-tak-mau, terbentuklah 3 kubu di antara warga.

Dalam situasi senang bercampur galau seperti itu, mereka pun kasak-kusuk mencari pedoman. Beberapa diantaranya menemui Dayu Ida Ayu Suci Levi yang tersohor sebagai pakar simbol (seperti Robert Langdon itu lho, simbolog dari Harvard dalam novel-novel Dan Brown).

Di pendoponya yang sejuk dan asri, ditingkah lirih senandung burung, Dayu Levi menjelaskan pandangannya dengan bijak-bestari namun penuh wibawa, sebagaimana dicatat dalam lontar berikut ini:

https://m.facebook.com/groups/682765652194049?view=permalink&id=979733402497271

Hadirin manggut-manggut menyimak. Nyaris tidak bersuara, bahkan tarikan napas pun seperti ditahan. Mungkin tak rela mengganggu suara Dayu Levi yang jernih dan welas asih.

Dengan penuh sukacita mereka kembali ke rumah masing-masing sambil membawa keyakinan atas pilihan terbaiknya.

Sementara itu, beberapa orang lain, secara diam-diam menemui Ki Ageng Manik (KAM) yang tinggal menyepi di lereng bukit. Berdesak-desak mereka duduk di lantai kayu serambi pondok yang kecil.

Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menyampaikan kegundahan hati mereka.

KAM: "Lah, kenapa musti bingung? Kalian pilih saja yang kalian suka. Tidak ada yang salah ataupun benar. Wong ini soal selera dan persepsi. Gitu aja kok repot?"

Warga: "Kami khawatir jika berbeda pilihan dengan para tetua dukuh, apalagi dengan Kebayan, nanti kami dikucilkan. Apa itu istilahnya? Diemut ngadimin ya?" (sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari dukungan)

Sambil terkekeh, KAM berkata: "Kalian ini aneh-aneh saja. Tetua yang sekarang bukanlah orang-orang gila hormat dan suka ngemut. Kalau tidak belajar dari prahara kemarin, pandir banget lah mereka itu.

Kalian sangsi pada Denmas Fadjar Hari Mardiansjah, Om Badru Salam, Chief Ize Hawkeye, Mbakyu Ratih Christyaningsih, Jeng Riani Perdanasari, Pakde Darmadji Darmaputra, Kak Betty Simarmata? Semprul tenan koen!

Warga: "Kami hanya ingin harmonis dengan para tetua."

KAM (rada ngambek): "Bahlul banget ente! Yang harusnya harmonis ya kalian sesama warga. Para tetua bukanlah majikan kalian. Mereka ada di sana karena dipandang mampu membantu kalian hidup selaras dengan sesama dan lingkungan. Itu saja tugas mereka."

Nyali mereka langsung ciut kena semprot KAM. Pakai kuah pula semprotannya 😅

Seseorang mengacungkan tangan.

Warga (suara agak tegas): "Permisi, Ki Ageng. Nama saya Manalu. Mohon ijin bicara, Ki Ageng."

KAM: "Ijin diberikan. Speak freely."

Warga: "Siap, Ki Ageng! Mohon dimaklumi jika sahaya dianggap ngeyel. Tapi sahaya ingin tahu, ke mana sebenarnya arah pilihan para tetua. Sebagai pengayom dukuh, tentunya mereka lebih waskita dibanding kami yang rakyat biasa. Apalagi sahaya yang terbiasa taat pada perintah atasan."

KAM (mencoba memaklumi): "Hmm.. (sambil mengelus dagu yang tak berjenggot). Coba kamu jelaskan masing-masing gajah keramat itu."

LUTU

Warga: "Empu Jonathan M adalah yang pertama membawa gajah dari Taman Sriwedari. Gajah itu lucunya ampun-ampunan. Lutuna tu de Maxx. Memang lucu banget, Ki."

KAM: "Centil banget sih kamu! Oke, kita sebut saja namanya si LUTU.
Selanjutnya!"

UNO

Warga: "Empu Dody Sagir mendatangkan gajah imut, lucu, menggemaskan, dan rada jahil. Namanya UNO yang artinya ..."

KAM (langsung nyolot dengan agak sengit): "Sudah tahu! Gak usah ngajari saya! Wong waktu muda dulu saya pernah kencan di tukang es krim Itali kayak Gus Yudhi Azfandiari, jadi tahu bahwa Uno itu artinya satu. Mau sok ngajari ya, kamu?"

Warga (suara agak lembut, tidak setegas sebelumnya): "Selain itu, UNO juga bermakna unofficial, karena gajah dukuh sebelah katanya sudah dikasih stempel official."

KAM: "Wis, ben. Biarkan. Kagak urus kita!
Selanjutnya!"

ORIN

Warga: "Malamnya, di hari yang sama, Empu Dantje Arifdani Nugraha berhasil menghadirkan gajah warna oranye yang sedang menari balet.."

KAM (memotong dengan suara menggelegar): "What?! Gajah oranye? Menari balet? Serius kamu? Uwedan tenan iki!"

Sontak semua terhenyak karena kaget sambil tak paham maksud KAM.

Warga (sedikit takut-takut): "Kenapa rupanya, Ki?"

KAM: "Dasar wong gemblung! Kalian pernah lihat gajah oranye? Pernah lihat gajah menari balet?"

Warga (masih sedikit keder): "Belum pernah, Ki.."

KAM: "Tahu artinya apa?"

Tidak ada yang berani menyahut.

Elephants don't do Ballet

Elephants don't do Ballet
Penny McKinlay

KAM: "Itu tanda KEMUSTAHILAN! Ngerti koen? Mustahil ada gajah oranye. Mustahil gajah menari balet. Makin dobel mustahilnya. Tetapi pada kenyataannya Empu Dantje berhasil menghadirkannya di Dukuh kita. Paham artinya?"

Warga saling tatap tanpa menjawab.

KAM: "Itulah kamu, kamu, kamu, kamu...! (seru KAM sambil menunjuk jidat satu per satu orang di depannya). Kalian itu adalah contoh par excellent kemustahilan.

Kalian itu rupa-rupa. Ada yang berasal dari kampung antah berantah, ada yang dari metropolitan, ada yang dari keluarga kelas saudagar, perwira, darah biru, ada yang kere, ada yang ngomong saja belepotan dengan logat nenek-moyangnya, dsb, dll, dst. Belum lagi masalah usia yang jomplang. Acak-adut kabeh.

Tapi kalian semua sekarang bisa guyub di Dukuh Alit Galu ini. Saling canda, saling ejek, saling hibur, saling dukung. Rukun.

Banyak yang bilang semua itu mustahil. Dan memang faktanya di dukuh lain hil itu memang mustahal. Baru di dukuh kita kemustahilan itu menjadi kenyataan. Seperti datangnya gajah oranye menari balet itu.

Kita kasih nama si ORIN. Karena itulah aslinya kalian. Original. Tulen. Apa adanya tanpa penyedap buatan. Bukan kaleng-kaleng. Gak pakai topeng."

Warga (masih setengah bingung): "Jadi bagaimana, Ki?"

KAM (berdiri sambil meledak): "Apanya yang gimana? Gemblung kabeh! Tandanya sudah jelas cetho welo-welo! Masih belum paham juga? Ya amplop! Apa harus saya cambuk pantat kalian? Sana, sana, bubar!!!" (sambil berdiri dan mengambil cambuk yang tergantung di tiang beranda)

Warga terbirit-birit berhamburan melarikan diri dari pondok Ki Ageng Manik.

Hanya tinggal satu anak muda yang masih duduk dengan takzim di lantai kayu beranda. Namanya Raden Mas Tomi Highfinger, yang pernah menjadi Pangeran Utama di Kerajaan Mechanix.

catatan lontar terputus sampai di sini

— PinAng: Minggu, 2 Agustus 2020

Hide this content.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar