Kamis, 30 September 2021

Steak di Pekarangan Kota Suci

[Vatikan, 7 Maret 2016]

Kisah ini sebenarnya teramat ingin dilupakan. Tapi karena tidak juga terkubur, siapa tahu bisa menyublim menjadi uap jika diceritakan.

Alkisah, saya dan 5 kawan berkesempatan menyambangi kota Roma nan legendaris seantero jagad. Sesuai pemeo "banyak jalan menuju Roma", entah apapun kiatnya (yang berbalut beberapa tragedi pula) akhirnya kami sampai juga ke sana. Hallelujah!

Berbekal tiket terusan bis wisata hop-on hop-off berikut petanya, kami pun berpuas berkeliling menikmati berbagai lokasi wisata di Roma, seperti Colosseum, air mancur Trevi yang dasar kolamnya penuh koin permintaan, Spanish Step, Pantheon yang semula adalah kuil pemujaan para dewa-dewi Romawi, dsb. sambil tak lupa mengumbar foto serta menikmati es krim asli Italia yang bukan keluaran Ragusa.

Telanjur sudah di Roma, walau kami bukanlah pemeluk agama yang saleh, malah tak semuanya beragama Katolik, tentu saja tak ada salahnya berkunjung ke negara mini Vatikan yang merupakan episentrum agama Katolik sedunia. Wong tempat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata. Lagipula jaraknya hanya sepelemparan serabi kinca dari kota Roma.

Tengah hari, sampailah kami di perbatasan kota Vatikan. Sambil menyeberangi Sungai Tiber (kalau tidak salah) kami pun melakukan ritual berteriak bersama di atas jembatan, macam orang gila yang baru saja kena sosor angsa.

Dari kejauhan, kubah Basilika Santo Petrus sudah tampak. Berkilau disiram cahaya lembut mentari. Tiang obelix yang tegak menjulang di tengah lapangan pun seperti melambai-lambai riang menyambut kedatangan kami. Rasanya tak sabar untuk segera menelusuri seluruh pelosok kota yang penuh karya para maestro ini.

Tapi perut sudah menagih diisi. Selayaknya lokasi wisata, tentu saja restoran ataupun gerobak penjaja makanan (juga cenderamata) bertebaran di sekitar situ.

Saya sih tidak masalah dengan makanan apa saja. Mau European atau Asian, oke saja. Dengan catatan: tidak pedas!!! Maklumlah, perut sudah tidak seperkasa masa muda. Sedangkan beberapa kawan kurang sreg dengan makanan Eropa sehingga kami kerap berusaha mencari sajian Asia seperti Chinese atau Vietnamese yang lebih suai dengan selera mereka.

Ternyata di seputaran Vatikan tak ada restoran Asia. Alternatifnya adalah makanan yang sudah diakrabi, semisal burger atau pizza. Walau rasanya tentu tidak senikmat di tanah air. Kebanyakan makanan di sana tergolong hambar seperti kekurangan bumbu. Pantas saja dulu orang Eropa gigih banget mencari rempah-rempah hingga Nusantara.

Kebetulan ada sebuah restoran kecil yang menjual burger. Mampirlah kami ke sana. Kalau tidak salah, € 4 sebuah. Bolehlah. Sekadar mengganjal perut hingga sore.

Saat sedang memilih burger yang kira-kira cocok di lidah, seorang kawan mengatakan bahwa resto itu sedang promosi 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 komplet. Hanya € 7, katanya. Wah, tentu saja kabar ini kami sambut penuh sukacita. Kami pun segera masuk ke resto dan duduk sekeliling meja makan.

O ya, resto di Eropa umumnya agak belagu setengah tak berperikemanusiaan. Kalau kita hanya membeli minuman atau makanan ringan, biasanya tidak boleh duduk. Silakan berdiri di trotoar atau bawa pergi. Jangankan duduk, numpang pipis saja kadang tidak boleh kalau tidak belanja. Atau harus bayar antara € 0.5 hingga € 2 per sekali setor.

Begitu kami duduk, pelayan menanyakan pesanan. Dengan penuh ketegasan kami memesan 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 promo tadi. Pelayan bertanya, berapa porsi? Satu per orang, kata kami. Melihat gambar 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 berikut kentang dan sayurnya, pastilah memadai untuk bertahan sampai makan malam nanti.

Setelah berdiskusi dengan sang pelayan, seorang kawan kemudian mengatakan bahwa kami ditawari paket yang menggabungkan 6 porsi tadi menjadi 1 loyang besar. Oke sajalah, sahut kami tidak berkeberatan.

Sambil menunggu, kami pun melepas dahaga dengan air bening yang disediakan di meja. Entah kenapa, sang pelayan melarang kami menuangkan sendiri air dari teko ke gelas. Dialah yang melakukannya dengan sangat ramah dan sopan. Dan saat minta ijin menggunakan WC, dengan sigap sang pelayan mengambilkan kunci pintu WC seraya menunjukkan jalannya ke lantai bawah. Bergiliran kami buang air kecil.

Setelah itu, sang pelayan dengan setia berdiri di dekat meja selama kami di situ, seakan bersiaga andai ada yang kami perlukan. Wah, sungguh luarbiasa memang perilaku orang-orang di sekitar kota suci ini, komentar saya. Bintang lima nih ⭐⭐⭐⭐⭐

Tak berapa lama, datanglah pesanan kami. Satu loyang besar daging matang yang sudah dipotong-potong dan masih panas. Ruap wanginya sungguh membangkitkan selera. Dengan penuh semangat kami melahap hidangan yang memang sangat empuk dan gurih.

"Enak bener nih daging. Banyak pula. Kenyang bahagia deh kita siang ini," komentar salah seorang kawan dengan sumringah.

Usai menggasak makanan semampu perut menampung, kami berpesan pada pelayan untuk membungkuskan sisa steak. Masih dapat 1 kotak kecil. Lumayan..

Setelah leyeh-leyeh sejenak memberi kesempatan bagi usus mencerna makanan, kawan yang bertugas sebagai bendahara menuju kasir untuk menuntaskan pembayaran. Sesaat kemudian, dia kembali dengan wajah tegang setengah pucat seperti lirik lagu, "That her face at first just ghostly, turned a whiter shade of pale."

"Kenapa?" tanya kami heran.

Dia menyodorkan bon tagihan makanan kepada kami. Tertera angka € 279.40, yang kalau dikurs menjadi Rp 4 juta lebih. Hah?!! Katanya € 7. Dikali 6 orang, paling banter kena € 50 lebih sedikit lah plus tip. Kok jadi ratusan begini?

Kawan saya segera memanggil pelayan yang ramah tadi untuk meminta penjelasan. Sementara kami yang baru saja bersyukur atas makan siang yang enak, langsung terkulai lemas di kursi masing-masing. Entah apa penjelasan yang disampaikan oleh pelayan ramah tadi, kami sudah tak menyimak. Ada kemungkinan ketika kami meminta 𝘴𝘵𝘦𝘢𝘬 promo sebanyak 6 paket, sang pelayan menawarkan paket lain untuk berenam. Berpikir bahwa tawaran ini sekadar menyatukan 6 paket promo menjadi 1 loyang, kami setuju. Ternyata beda barang, Fergusso! 😓

Telanjur makanan sudah masuk perut dan malas berurusan dengan persoalan yang bisa merusak reputasi bangsa (cie, cie, cie.. I love Indonesia 🇮🇩) dengan berat hati digeseklah kartu kredit dengan tagihan sekian ratus Euro untuk sekali makan yang sebenarnya tidak masuk dalam kategori makanan mewah ala restoran eksklusif. Wong ini hanya resto kecil yang nyempil dan biasa-biasa saja.

Keluar dari restoran, agak lunglai langkah kami memasuki pelataran Basilika Santo Petrus. Rencana makan burger € 4 malah keluar duit lebih dari € 46 per orang. Pantas saja pelayan itu demikian menghormati dan melayani kami dengan ekselen. Rupanya, tidak hanya di Indonesia, bahkan orang bule di Eropa pun menganut paham "ada udang di balik bakwan; ada uang, saya servis abang" 😜

Kendati demikian, kami sepakat untuk konsisten ke tujuan awal berpesiar, yakni menikmati objek wisata sepuas-puasnya dan menikmati kebersamaan dengan para sahabat seperjalanan. Alhasil, wajah-wajah kami dalam foto pun tak ada yang merengut selama menjelajahi Vatikan. Wajah ceria dengan senyum maksimal tanpa beban selalu ditampilkan dalam foto kenangan.

Hanya saja, saat sorenya naik bis wisata kembali ke penginapan, raut wajah langsung bertakik-takik seperti patung dipahat kasar tanpa diampelas. Semua diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Amblas sudah jatah yang kalau dipakai di resto Chinese atau Vietnamese bisa untuk beberapa kali makan 😓

Esok paginya, ketika makan nasi putih yang dimasak sendiri (kawan saya ada yang wajib makan nasi, sehingga dari Indonesia pun dia membawa rice cooker kecil dan bekal beras beberapa kilo 😊 dengan lauk Indomie kuah berikut beberapa potong daging sisa makan siang di pelataran Vatikan, kami tertawa-tawa getir sambil mengunyah dengan sangat khidmat steak termahal yang pernah jadi makan siang kami.

Beginilah kalau komunikasi dengan bahasa Inggris berbalas pantun dengan bahasa Italia tanpa sepenuhnya saling paham. Hikmahnya, kami pun menjadi kian memahami filosofi klasik bahwa rasa lapar bisa membuat orang khilaf dan kalap 😊

— feeling silly.

PinAng: Kamis, 30 September 2021 22:10 WIB