Versi cetak

Selasa, 11 Maret 2008 03.58

Satu Hari Minggu di Serpong

— Pelantikan PadrĂ© Daniel Harahap

HKBP Serpong
HKBP Serpong
rumametmet

Setelah Padre Daniel Taruli Asi Harahap yang populer dengan inisial DTA mengabarkan melalui milis hkbp bahwa beliau akan dilantik sebagai Pendeta Resort di HKBP Serpong pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, eh pada tanggal 9 Maret 2008 jam 09.00 WIB, saya langsung menyampaikan euangelion alias berita gembira tersebut kepada para lae saya (3 orang sepupu istri saya, para lelaki bujangan yang mendaku sebagai high quality jomblo) yang dahulu pernah di-pendeta-i oleh DTA di HKBP Palembang.

Tentu saja saya merasa wajib memberitahu mereka, karena mereka mengaku kenal dekat pada DTA dan sangat mengagumi beliau. Dengan senang hati pula mereka menyatakan mau mengawani saya ke acara tersebut. Sehingga, pada tanggal 8 Maret 2008 malam, kami pun mengikrarkan janji untuk berangkat ke Serpong keesokan harinya pada pukul 07.30 WIB.

Keesokan paginya, tahu-tahu hati saya tergerak rasa iba melihat mobil yang kotor setelah kehujanan di jalan semalam. Timbullah niat tulus untuk memandikan kendaraan yang selama beberapa tahun terakhir setia membawa saya ke mana pun saya ingin. Melihat jam yang jarum-jarumnya baru berkisar di angka 7, maka saya pun langsung menunaikan niat tak terbendung tersebut.

Saking asiknya membersihkan mobil, tidak terasa jarum jam sudah merangsek ke angka 8 ketika saya menggulung selang air. Maka, saya pun bergegas mandi dan berganti pakaian. Sambil mengunyah bakpau hangat isi daging babi yang disiapkan istri, saya pun berangkat menjemput para lae saya di Pejaten. Ternyata, kedua lae saya itu sudah siap sejak pukul 07.15. (Bisa kualat saya karena mengerjai hula-hula :-).)

Jam 08.30 kami pun tinggal landas. Istri saya tidak jadi ikut karena tidakmengerti bahasa Batak Toba (maklumlah, blasteran Batak-Jawa). Apalagi setelah saya sampaikan bahwa acaranya akan lama (sesuai maklumat yang disampaikan DTA melalui milis). Maka, saya hanya dikawani oleh Ricky si sulung dan Rully si bungsu. Sedangkan anak lelaki yang tengah tidak ikut karena tinggal di tempat lain dan harus mengawani laenya ke gereja.

Sebenarnya kami agak nekad juga, karena tidak tahu persis di mana lokasi HKBP Serpong. Tidak ada di peta Jakarta karya G.W. Holtorf produksi tahun 2002 yang saya miliki :-(. Setelah bertanya pada Satpam di Indomaret sekeluarnya kami dari jalan tol Serpong —dan dengan merapalkan "Giant Serpong" serta "Villa Melati Mas" bak kalimat bertuah—, kami pun diselamatkan dari kesesatan dan diarahkan ke jalan yang benar, sehingga berhasil menemukan gereja HKBP di Jalan Oliander VI Blok O Nomor 1.

Kami tiba jam 09.10 WIB di sebuah gereja yang dapat disebut kecil dan sederhana dibandingkan kemegahan HKBP Rawamangun yang menjadi tempat DTA berkarya beberapa tahun silam.

Saya sangka kami sudah terlambat. Apalagi ketika melihat bangku-bangku yang ada di luar gereja sudah diduduki beberapa orang. Maka, dengan segera kami masuk ke dalam gereja dan menganeksasi sebuah bangku yang dikaruniai hembusan penyejuk udara. Sambil menunggu, saya membaca-baca lembaran liturgi dan warta jemaat. Ternyata, acara dijadwalkan jam 09.30 WIB sampai 11.30 WIB.

"Wah, kecepatan kita masuk. Padahal sempat tadi kita merokok barang sebatang dua batang." cetus saya pada lae saya. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Apalagi kami khawatir bangku kami akan dikudeta oleh orang lain jika kami meninggalkannya.

Suasana gereja sangat gaduh. Semua orang berbincang dengan sesamanya, dan bukan sekedar berbisik-bisik. Belum lagi suara anak-anak kecil yang berteriak-teriak ataupun menangis.

"Inilah ciri khas HKBP. Ribut.", kata lae saya. "Malah, bukan hal yang aneh kalau bapak-bapaknya keluar untuk merokok saat pendeta kotbah. Apalagi waktu sermon.", tambahnya lagi.

Akhirnya, sekitar pukul 09.30 lewat (entah lewat berapa menit persisnya, saya tidak perhatikan jam), kebaktian pun dimulai. Iring-iringan pendeta dan sintua memasuki gereja, dipimpin oleh Pdt. JAU Doloksaribu, M.Min, Pdt. Abidan Simanungkalit, M.Min, dan Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap, M.Th yang rambut gondrongnya —tampaknya— sedikit dipangkas. (Saya lihat, kondisi beliau secara fisik baik-baik saja. Entah hati dan benaknya :-).)

Beberapa anggota jemaat berbisik-bisik, "Itu yang brewok". Rupanya mereka sedang menaksir-naksir pendeta baru mereka. "Seperti Yesus", tambah saya dalam hati sambil tersenyum. (Tapi, belum pernah saya lihat gambar Yesus yang beruban :-).)

Acara diawali dengan kebaktian biasa. Hanya saja, kali ini ada 5 kelompok koor: Koor Ama Rawamangun, Koor Ama HKBP Serpong, Koor Wijk Jerusalem, Koor Maranatha HKBP Cijantung, Koor Ama HKBP Cijantung. Seharusnya masih ada 1 lagi. Tetapi, entah mengapa, Koor Ina HKBP Cijantung tidak jadi beraksi. Dua kelompok koor membawakan 2 lagu, sehingga ada 7 lagu persembahan koor. Ada juga 1 nyanyian solo yang dibawakan oleh seorang perempuan. Sedangkan jemaat bernyanyi sebanyak 11 kali hingga tuntasnya acara. (Jadi ingat Martin Luther yang mengatakan sebuah lagu yang baik senilai dengan 2 buah doa :-).)

Kotbah yang dilayankan oleh Pdt. JAU Doloksaribu mengacu pada Hakim-hakim 11:1-11 (ini nomor cantik!). Berhubung saya tidak mahir berbahasa Batak Toba, tidak semua isi kotbahnya dapat saya serap. Samar-samar saya menangkap maksudnya, yakni penghargaan yang adil terhadap sesama. Mengamati tanggapan beberapa anggota jemaat yang beberapakali tertawa maupun manggut-manggut, saya rasa beliau cukup baik dalam menyampaikan kotbah.

Saya tidak tahu berapa lama beliau berkotbah. Agaknya cukup lama juga, sehingga lae saya agak menggerutu. "Kalau Pendeta Daniel yang berkotbah, biasanya ringkas dan sistematis.", katanya. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB saat kotbah di-amin-kan. Menurut jadwal sih seharusnya seluruh acara sudah usai pada jam tersebut :-(.

Selanjutnya adalah kolekte (pelean) kedua (kolekte pertama menggunakan 2 kantong). Entah mengapa, kolekte kedua ini dilangsungkan dengan memasukkan amplop ke dalam kotak di depan mimbar gereja. Sedangkan kami tidak mengambil amplop yang disediakan di depan pintu gereja pada saat masuk tadi. Apa boleh buat, terpaksalah kami mempersembahkan uang secara bugil tanpa penutup.

Saya cukup terpana melihat banyaknya orang yang berbaris memasukkan amplop. Banyak juga anggota jemaat gereja ini, pikir saya. (Richard Hutahaean yang bertemu dengan saya setelah selesai acara mengatakan bahwa anggota jemaat ada 450 Kepala Keluarga.) Padahal, tadi pagi sudah ada kebaktian.

Dari laporan keuangan gereja minggu sebelumnya, terlihat bahwa jumlah kolekte kebaktian pagi lebih besar dibanding kebaktian siang. Jika fenomena ini diasumsikan sebagai sebuah kebiasaan dan besarnya kolekte ekivalen dengan jumlah orang yang hadir di kebaktian, maka peserta kebaktian pagi lebih banyak daripada kebaktian siang. Mungkin hari Minggu ini keadaannya lain, mengingat ada acara istimewa, sehingga peserta kebaktian siang lebih banyak. Wallahu'aalam.

Saat memasukkan uang tanpa busana itu ke kotak, saya sempat melirik DTA yang duduk bersama istri di barisan terdepan. DTA berbisik kepada istrinya, yang lamat-lamat saya dengar, "Itu alof". Mudah-mudahan karena DTA benar-benar mengingat wajah saya, bukan kuncir rambut saya :-).

Lalu masuklah ke acara pelepasan dan penerimaan pendeta. Pdt. Abidan Simanungkalit, M.Min yang semula menjadi pendeta di HKBP Serpong akan dilepas untuk bertugas di HKBP Cijantung. Sedangkan Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap, M.Th yang selama setahun lebih tidak jelas statusnya, kini diterima sebagai pendeta di HKBP Serpong.

Pdt. JAU Doloksaribu memimpin acara ini selaku Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3 yang membawahkan Resort Serpong. Setiap membaca nama DTA, beliau secara jelas menyebutkan gelar lengkap DTA, Master of Theology. Barangkali beliau hendak mengoreksi penulis naskah liturgi "Paborhathon dohot Paojakhon Pandita Ressort di HKBP Ressort Serpong" yang mencantumkan gelar S.Th di belakang nama DTA.

Selesai sesi berterimakasih pada pendeta lama dan menginterogasi kesediaan pendeta baru menggembalakan jemaat HKBP Serpong, Pdt. Abidan Simanungkalit dan keluarga berpamitan pada seluruh jemaat HKBP Serpong dengan mempersembahkan sebuah lagu. (Banyak juga anaknya. Kalau tidak salah, ada 7 orang. Tetapi tidak semua hadir dalam acara itu.)

Kemudian DTA dan istri maju ke depan untuk memberikan sambutan pertama (hata partujolo) kepada para anggota jemaat. Setelah memperkenalkan istrinya, DTA bercerita bahwa dia mendapat protes dari anaknya jika disebut "Amani Kika (anak pertamanya)" karena anak-anak lain mengatakan bahwa DTA bukan hanya bapak Kika, melainkan juga bapak Nina dan Willy. Walhasil, jadilah DTA sebagai "Amani KNW". Dan itulah gelar yang akan dituliskan pada nisannya kelak, katanya.

DTA pun menghaturkan terimakasih atas dukungan para kolega dan sahabatnya, terutama yang hadir dalam acara itu. Sempat-sempatnya DTA menyebut nama lengkap saya (nama asli plus marga). Saya jadi agak tersipu-sipu, karena saya datang atas nama pribadi. Namun demikian, saya senang, sebab hal itu membuktikan betapa luasnya jaringan keakraban yang dibangun oleh DTA. Lintas denominasi, lintas sektoral.

Kalau saja nama Padre Jan Calvin Pindo dari GKI Pamulang, Padre Joas Adiprasetya dari GKI Pondok Indah yang kini sedang khusuk di Boston, Padre Daniel Zacharias dari GKO, Pdt. Tonny G. Tanos di Washington DC, rekan-rekan pendeta non-HKBP yang beberapa waktu lalu melurug ke milis ini, maupun kolega-kolega DTA di mancanegara turut disebut, apalagi jika seluruh nama kawannya di Friendster dideretkan bak undangan perkawinan orang Batak, mungkin tak akan cukup satu halaman kertas A4 menampungnya dan tak akan cukup 1 jam untuk membacanya :-). Untunglah DTA bukan orang yang gemar pamer.

Kemudian, sebagaimana biasanya acara-acara Batak, masuklah ke acara yang ditunggu-tunggu, yaitu sambutan-sambutan (mandok hata) dari orang-orang pilihan. Entah mengapa ada seorang pemberi kata sambutan yang kelihatannya menggunakan kesempatan itu untuk menuangkan uneg-unegnya. Entah apa pula pasalnya (maklumlah, bahasa Batak Toba saya minim). Celakanya, omongannya panjang pula. Sampai-sampai, seorang sintua yang secara sopan membisikinya (mungkin mengingatkan soal waktu) pun ditampiknya dan ditegurnya.

Saya dengar seseorang yang duduk di belakang saya menggerutu (dalam bahasa Batak), "Kenapa sih dia ngomong gitu di sini? Kenapa masalah itu harus diingat-ingat sih?". Entah apa persoalan yang diungkitnya. Ah, masa bodohlah! Saya toh datang ke sini bukan untuk mencari tahu hal-hal yang tidak perlu saya tahu, melainkan untuk memberikan selamat dan dukungan pada sobat saya, DTA.

Selesai acara, kami memberikan selamat kepada DTA dan keluarga. DTA memperkenalkan saya sebagai "teman di milis" pada istrinya. Adapun kedua lae saya masih dikenali oleh istri dan mertua DTA. Tentu saja, karena bertahun-tahun mereka bertetangga di Palembang.

Kami tidak sempat menyalami Kika, Nina, dan Willy (yang pada saat kebaktian duduk 2 baris di depan kami). Walau mereka masih kecil, saya rasa mereka pun —sesuai kadar usia muda mereka— berbahagia dan berbangga atas pelantikan ayahanda mereka.

Jarum jam sudah di kisaran angka 13.30 ketika kami berpamitan. "Sampai ketemu di milis", ujar DTA. Dan barangkali —semoga— Tuhan berkenan atas kehadiran DTA sebagai gembala di Serpong, sehingga turunlah "hujan berkat melimpah". Benar-benar melimpah-ruah.

Ketika berdiri di pelataran gereja, di bawah tenda yang disirami hujan dengan rajinnya, menantikan lae saya mengeluarkan mobil dari rintangan beberapa mobil yang diparkir melintang, seseorang menghampiri saya.

"Lae alof?", sapanya.

Saya mengiyakan. Ternyata dia adalah Richard Hutahaean.

"Kok tahu saya ada di sini? Padahal kita belum pernah jumpa.", tanya saya.

"Pendeta Daniel tadi bilang bahwa alof datang. Cari saja yang rambutnya panjang dan dikuncir, katanya."

Hahaha... Kalau kemarin saya jadi pangkas rambut, sulitlah Richard menemukan saya di antara banyak orang lain di gereja tersebut.

Kami pun berbincang-bincang sejenak. Kemudian saya berpamitan, karena lae saya sudah berhasil melepaskan mobil dari himpitan mobil lain.

Hujan masih sangat deras. Perjalanan kami masih jauh untuk pulang ke Jakarta. Perut pun sudah berteriak-teriak kekurangan pasokan pangan. Di pelataran gereja memang disediakan santap siang, namun kami memutuskan untuk mengangkat bendera putih pada para tamu yang kelihatannya cukup banyak jumlahnya dan cukup lapar. Maka, kami pun bergegas menembus hujan, meninggalkan HKBP Serpong menuju Jakarta.

Senja sudah mulai merayap di cakrawala.

Selamat bertugas, sobat saya, Padre Daniel Taruli Asi Harahap. Walau ada rasa pilu dalam hati ketika membandingkan gereja HKBP Serpong dengan HKBP Rawamangun, saya yakin [dan berdoa] DTA tidak berkecil hati. Banyak pekerjaan yang sudah menanti. Malah, saya berharap, dari tempat inilah akan muncul gagasan-gagasan besar yang lahir dari ketulusan pengabdian, yang akan diperjuangkan oleh dan mencerahkan banyak orang demi membesarkan, memantapkan, dan memperbaharui HKBP dalam cinta.

Sebab, di sini, —saya harap— DTA akan menemukan lawan berbincang dan mitra kerja yang hebat-hebat. Konon, tidak sedikit anggota jemaatnya yang bergelar doktor yang mengemban tugas pengabdian di Puspiptek Serpong. Juga para pemuda (naposo bulung).

Kini DTA bukan lagi "pendeta kecil di gereja besar" sebagaimana tagline yang dulu kerap ditulisnya. Semoga suatu saat beliau akan menjadi pendeta besar di gereja besar dengan hati, pikiran, dan kebijaksanaan yang besar tanpa membesar-besarkan diri, yang tetap memproklamasikan dirinya kecil di hadapan Sang Kepala Gereja.

Semoga hujan berkat semakin melimpah. Di Serpong. Dari Serpong.

Deo volente. Amen.

Dengan sangat menyesal saya tidak sempat menyampaikan buku-buku yang saya janjikan. Ketika sehari sebelumnya saya mencari ke toko buku, ternyata tidak ada stok. Mau ke toko buku Obor atau Gunung Mulia, sudah kesorean. Mungkin lain hari saya bisa menuntaskan niat tersebut. Toh saya sudah tahu alamat lengkap rumah dinas DTA di Serpong.

— Beth: Selasa, 11 Maret 2008 03:58

From: Daniel Taruli Asi Harahap <harahapdaniel@yahoo.com>
Sent: Monday, 10 March 2008 06:42

Mulai Minggu kemarin 9 Maret 2008 saya telah resmi bertugas sebagai pendeta hkbp resort serpong bsd tangerang. Terima kasih atas semua doa dan simpatinya lewat email, sms dan telepon.

Terima kasih secara khusus untuk kawan Alof yang berkenan datang bersama dua orang iparnya Andrian dan Ricky Tamba (sahabat keluarga dan tetangga mertua saya di Palembang) yang bukan saja menempuh perjalanan cukup jauh namun harus duduk terlalu lama di sebuah kebaktian pelantikan. Mohon maaf jika saya belum punya kendali memperpendek acara kemarin. Terakhir, jika suatu saat saya menghubungi kawan2 memintakan bantuannya untuk ikut membangun hkbp serpong, janganlah kapok menerimanya.

Horas
Daniel Harahap

Catatan: Richard Hutahaean adalah anggota jemaat hkbp serpong, dan Todung Siagian adalah anggota majelis hkbp serpong. Jika kawan2 ingin memastikan saya sehat2 dan baik2 di serpong boleh lewat mereka berdua. :-)

# catatan kaki