Versi cetak

Sabtu, 22 November 2003 01.07

Ibu Kita, Maria

— Perempuan yang Terlupakan

The Assumption of The Blessed Virgin Mary
The Assumption of The Blessed Virgin Mary
apologetics

Ditinjau dari sudut karya keselamatan Allah, kita kerap menganggap Maria sekedar alat/sarana saja. Ibarat pipa saluran air yang tidak memberikan makna apa-apa kepada air itu. Akibatnya, kita sering lupa akan peran pipa itu. Kita tidak pernah memberi perhatian padanya dan baru ingat pada saat air tidak mengalir akibat pipa yang bocor atau mampat.

Dalam semangat radikal para pengikut Reformasi Protestanisme di abad ke-16 (dan diwarisi hingga kini), semua hal yang berbau Katolik hendak disingkirkan dari gereja. Dan penghormatan terhadap Maria adalah salah satu hal yang hendak dibabat. Secara salah-kaprah, penghormatan (devosi/adorasi) kepada Maria dicela sebagai penyembahan yang bertentangan dengan iman Kristen.

Padahal orang-orang Katolik bukan mendewa-dewakan dan menyembah Maria, melainkan menghormatinya sebagai ibunda Tuhan sebagaimana dahulu Elisabet (ibu Yohanes Pembaptis) menghormati Maria dengan pujian dan penghormatan,

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?"
— Lukas 1:42-43

1. Perempuan Istimewa

Tidak ada perempuan lain yang mendapat kedudukan demikian istimewa dalam Alkitab sebagai perempuan utama selain Hawa dan Maria. Dalam Perjanjian Lama, Hawa dipandang sebagai ibu dari semua umat manusia secara lahiriah, sementara Maria dalam Perjanjian Baru menjadi ibu murid-murid Yesus. Dari kedua perempuan inilah kita mewarisi kemanusian Kristen seutuhnya.

Dalam Injil Lukas dikisahkan bagaimana reaksi Maria ketika malaikat Tuhan mengunjunginya.

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.

Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah."
— Lukas 1:28-30

Keterkejutan Maria bukan dikarenakan kedatangan malaikat, melainkan makna yang dikandung dalam salam tersebut. Hal ini menandakan bahwa salam itu sangatlah tidak lazim dan sangat istimewa. Salam itu merupakan sebuah proklamasi bahwa Maria adalah orang yang dikaruniai dan disertai Tuhan. Sebuah kedudukan yang sangat istimewa yang tak seorang pun pernah mendapatkan pernyataan serupa itu.

Dalam bahasa Inggrisnya, salam itu berbunyi, "Hail, full of grace, the Lord is with you" (terjemahan yang kemudian menggunakan favored one). Maria disebut sebagai orang yang penuh rahmat. Kata ini diterjemahkan dari bahasa Yunani kecharitomene (dari asal kata charis yang bermakna rahmat/anugerah) yang mencerminkan kualitas karakter Maria.

Term Yunani ini mengandung makna rahmat yang kekal/permanen dan sempurna, yang dimiliki secara ekstensif sepanjang hidup sejak dalam kandungan. Sehingga eksegese Katolik tentang hal ini melahirkan doktrin Immaculate Conception yang menyatakan bahwa Maria sendiri dikandung tanpa dosa.

Keistimewaan Maria ini pun dikuatkan melalui penegasan malaikat Tuhan:

Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
— Lukas 1:35

Penyertaan Tuhan membuat Maria terbebas dari dosa asal maupun dosa pribadi. Bahkan dari ayat di atas, dinyatakan bahwa yang dibawa oleh Yesus dari Maria bukan hanya jasad kemanusiaan-Nya, melainkan juga kekudusan.

Mengenai ketidakberdosaan Maria, Martin Luther, reformator Protestanisme, pun tidak menyangkalnya:

She is full of grace, proclaimed to be entirely without sin- something exceedingly great. For God's grace fills her with everything good and makes her devoid of all evil.
— Personal {"Little"} Prayer Book, 1522.

It is a sweet and pious belief that the infusion of Mary's soul was effected without original sin; so that in the very infusion of her soul she was also purified from original sin and adorned with God's gifts, receiving a pure soul infused by God; thus from the first moment she began to live she was free from all sin".
— Sermon: "On the Day of the Conception of the Mother of God," 1527.

2. Perempuan yang Percaya

Yudas mengkhianati Yesus. Petrus, murid yang paling utama, menyangkali Dia tiga kali. Murid-murid lain terbirit-birit menyembunyikan diri ketika Yesus ditangkap dan disalibkan. Mereka baru berani menampakkan diri setelah mendapat kabar bahwa Yesus sudah bangkit.

Ragu!

Ya, mereka meragukan Yesus. Hilang rasa percaya mereka kepada Yesus semenjak Dia ditangkap. Bahkan mereka sangat takut atas keselamatan jiwa mereka. (Jadi ingat kasus Pondok Nabi yang dihancurkan massa setelah pemimpinnya di-"aman"-kan pihak yang berwajib.)

Sementara, sejak mula, Maria tidak menyangsikan kehendak Tuhan. Ketika malaikat mengatakan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak, dia hanya mengajukan pertanyaan,

"Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
— Lukas 1:34

Pertanyaan itu terdengar biasa-biasa saja. Kita tidak pernah heran bahwa pertanyaan itu sangatlah aneh, yang tentu saja tidak akan dilontarkan oleh Maria jika dia benar-benar akan menikah dengan Yusuf, tunangannya. Tetapi kita biasanya tidak terlalu mencermati hal itu karena pola pikir kita terpaku pada belum menikahnya Maria dengan Yusuf.

Alkitab memang mengatakan bahwa Maria bertunangan dengan Yusuf. Namun, pengertian bertunangan di sini tidaklah selalu akan berlanjut dengan perkawinan, melainkan semacam di bawah perlindungan. Alkitab pun tidak pernah menyebutkan bahwa pada akhirnya Yusuf mengawini Maria.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Maria dipersembahkan oleh orangtuanya untuk mengabdi di Bait Allah. Dan mereka tetap menjaga keperawanannya (seperti suster di biara) hingga akhir hayatnya.

Maria tidak takut mendapat aib di mata masyarakat Yahudi akibat kehamilan yang terjadi tanpa pernikahan. Padahal, sesuai hukum Musa, aib semacam itu dianggap zinah yang berisiko dirajam dengan batu sampai mati. Maria tidak takut menghadapi dunia ini.

Kata Maria,

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.
— Lukas 1:38

3. Ibu Keluarga Besar Kristus

Sebelum kematian-Nya, dari atas salib Yesus menyampaikan pesan yang berkenaan dengan keluarga dan pengikut-Nya yang ditinggalkan di dunia ini. Injil Yohanes mencatatnya sebagai berikut:

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!". Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
— Yohanes 19:26-27

Dengan perkataan-perkataan itu, Yesus menyatakan bahwa murid yang dikasihi-Nya (Yohanes) menjadi anak Maria dan Maria menjadi ibu Yohanes. Mereka dibaptis-Nya menjadi satu keluarga. Yesus menyerahkan ibu-Nya ke dalam perlindungan murid yang dikasihi-Nya dan menyerahkan murid-Nya ke dalam asuhan Maria.

Dalam hal ini, orang Katolik menempatkan diri sebagai pengikut/murid yang dikasihi Yesus dan menjadi bagian dari keluarga besar Kristus. Itu sebabnya mereka menempatkan Maria sebagai bunda rohani mereka, sebagai ibu mereka sendiri.

Tidak ada orang yang mengenal kita sebaik ibu sendiri. Dialah yang paling bisa berempati pada luka-luka, kegembiraan, keresahan, dan berbagai suka-duka kita. Tidak ada jalinan yang lebih kuat dibanding ikatan batin seorang ibu kepada anaknya. Tidak ada doa yang lebih tulus daripada doa seorang ibu bagi anak-anaknya.

Itulah yang mendasari kepercayaan orang Katolik untuk menghormati Maria dan berdoa bersama-sama (bukan kepada!) Maria kepada Tuhan. Ketidakberdosaan Maria adalah sebuah jaminan atas kebenaran doa yang dipanjatkannya.

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
— Yakobus 5:16

Saya jadi ingat lirik sebuah lagu yang membuat saya selalu merinding haru, "di doa ibuku, namaku disebut...".

— Sabtu, 22 November 2003 01:07

# Pandangan umum terhadap Bunda Maria

Mary is the Mother of Jesus and the Mother of all of us even though it was Christ alone who reposed on her knees... If he is ours, we ought to be in his situation; there where he is, we ought also to be and all that he has ought to be ours, and his mother is also our mother.
— Martin Luther, Sermon, Christmas, 1529.

No woman is like you. You are more than Eve or Sarah, blessed above all nobility, wisdom, and sanctity.
— Martin Luther, Sermon, Feast of the Visitation, 1537.

# Tentang doa Salam Maria

Our prayer should include the Mother of God. What the Hail Mary says is that all glory should be given to God, using these words: "Hail Mary, full of grace. The Lord is with thee; blessed art thou among women and blessed is the fruit of thy womb, Jesus Christ. Amen!"

You see that these words are not concerned with prayer but purely with giving praise and honor. We can use the Hail Mary as a meditation in which we recite what grace God has given her. Second, we should add a wish that everyone may know and respect her. He who has no faith is advised to refrain from saying the Hail Mary.
— Martin Luther, Personal Prayer Book, 1522.

# Tentang keperawanan abadi Bunda Maria (Perpetual Virginity)

It is an article of faith that Mary is Mother of the Lord and Still a Virgin... Christ, we believe, came forth from a womb left perfectly intact.
— Works of Luther.

There have been certain folk who have wished to suggest from this passage [Matt 1:25] that the Virgin Mary had other children than the Son of God, and that Joseph had then dwelt with her later; But what folly this is! For the gospel writen did not wish to record what happened afterwards; he simply wished to make clear Joseph's obdience and to show also that Joseph had been well and truly assured that it was God who had sent His angel to Mary. He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company... And besided this Our Lord Jesus Christ is Called the first-born. This is not because there was a second or a third, but because the gospel writer is paying regard to the precedence. Scripture speak thus of naming the first-born whether or no there was any question of the Second.
— John Calvin, Sermon on Matthew 1:22-25.

# Tentang pendapat bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa (Immaculate Conception)

It is a sweet and pious belief that the infusion of Mary's soul was effected without original sin; so that in the very infusion of her soul she was also purified from original sin and adorned with God's gifts, receiving a pure soul infused by God; thus from the first moment she began to live she was free from all sin".
— Martin Luther, Sermon: "On the Day of the Conception of the Mother of God," 1527.

She is full of grace, proclaimed to be entirely without sin- something exceedingly great. For God's grace fills her with everything good and makes her devoid of all evil.
— Martin Luther, Personal {"Little"} Prayer Book, 1522.

# Tentang penghormatan kepada Bunda Maria

The veneration of Mary is inscribed in the very depths of the human heart.
— Martin Luther, Sermon, 1 September 1522.

# Tentang kemungkinan penghormatan kepada Maria dapat menyingkirkan peran Yesus Kristus

One should honor Mary as she herself wished and as she expressed it in the Magnificat. She praised God for his deeds. How then can we praise her? The true honor of Mary is the honor of God, the praise of God's grace. Mary is nothing for the sake of herself, but for the sake of Christ. Mary does not wish that we come to her, but through her to God.
— Martin Luther, Explanation of the Magnificat, 1521.

Jumat, 07 November 2003 06.49

Belajar Memasak di Festival Rakyat

— Sebuah Refleksi tentang Forum Diskusi GKPS

Grand Aventures in Cooking
Grand Aventures in Cooking
4shared.com

Ada sebuah pepatah yang mengatakan rumput di pekarangan tetangga lebih hijau daripada rumput di pekarangan rumah kita sendiri. Kedengarannya memang bertendensi negatif. Tetapi, jika kita mau lebih arif, kita bisa melihat menarik hikmahnya dari berbagai sisi:

  1. Apakah dengan demikian kita lebih suka menikmati atau bermain di pekarangan tetangga?

    Alangkah gawatnya jika istri tetangga lebih cantik daripada istri kita sendiri :-). Orang-orang semacam ini adalah para pengkhayal yang lupa pada kenyataan dirinya sehingga terlena dalam mimpi di siang bolong ataupun orang-orang yang lupa kacang akan kulitnya alias malu pada identitas aslinya.

  2. Apakah kita akan memuji-muji pekarangan tetangga seraya menghina pekarangan kita sendiri?

    Inilah tipologi penggerutu yang hanya ingin mendapat kenikmatan tanpa mau berupaya. Dia ingin orang lain mengerjakan semuanya sampai selesai sehingga dia bisa berleha-leha menikmatinya.

  3. Apakah kita akan mempelajari kiat-kiat tetangga kita agar kita pun memiliki pekarangan yang hijau dan asri?

    Jika kita mau berbesar hati pada kekurangan kita dan mau rendah hati untuk memperbaikinya, niscaya kita pun akan berbangga akan keberadaan kita. Ini pekerjaan yang tidak mudah karena menuntut kita menyiangi pekarangan, menanam, memupuk, menyirami, dan sebagainya.

  4. dan lain-lain (silakan jabarkan sendiri)

Penghayatan kita terhadap pesan orang tua jaman baheula melalui pepatah itulah yang menjadi cermin jati diri kita.

Fenomena itu jugalah yang kita hadapi saat "merantau" ke berbagai forum diskusi lain. Ketika kita mengabarkan betapa asrinya taman tetangga, kita akan dihadapkan pada beberapa sikap tanggapan seperti di atas. Kabar yang kita sampaikan bisa menjadi kabar baik ataupun kabar buruk.

Sepanjang yang saya ketahui dari berbagai forum diskusi yang saya ikuti, tidak satupun dari mereka yang dapat dikatakan sempurna. Kelebihan mereka adalah keterbukaan untuk menerima berbagai persoalan yang diangkat oleh para anggotanya, serta kesetiakawanan sesama anggota untuk menjadi bagian dalam pemecahan masalahnya.

Tentu saja tidak dapat dihindari adanya oknum-oknum yang egois dan keras-kepala. Tetapi, semua itu adalah proses pembelajaran bersama yang dapat dijadikan bagian paling bermutu dari resolusi konflik, yakni kesediaan untuk menerima satu sama lain, yang pada intinya membutuhkan kesabaran dan kesadaran.

Forum diskusi semacam mailing list (milis) GKPS ini bukanlah media indoktrinasi satu arah. Forum ini adalah media berbagi pemahaman dan ajang menguji buah pikiran dalam adu argumentasi. Sebuah forum diskusi yang baik dapat diibaratkan sebagai kuali penggodogan. Semua bahan yang diperlukan dimasukkan sesuai takarannya dan diolah sesuai dengan tujuannya.

Forum diskusi juga bukanlah sebuah restoran siap-saji (fast food), dimana kita bisa memesan makanan matang sesuai selera kita. Sebaliknya, forum diskusi dapat dianalogikan dengan sebuah festival rakyat yang menyajikan berbagai hidangan. Kita semua adalah juru masaknya. Dan kita semua juga yang akan menikmati sajiannya.

Mengharapkan sajian matang tanpa mau repot berpanas-panas di dapur adalah mental priyayi (ningrat) feodal atau bayi yang hanya bisa menanti disuapi. Dan bukan itu —kalau saya tidak keliru— tujuan forum diskusi GKPS ini. Kita semua hadir di sini untuk saling mendewasakan pikiran, yang untuk kemudian —diharapkan— dapat dipancarkan dalam sikap hidup.

Walau tidak semua hidangan sesuai dengan selera kita, kita tidak berhak menetapkan jenis-jenis hidangan yang boleh disediakan di atas meja, karena orang lain memiliki selera yang berbeda dengan kita. Kita tidak berhak membatasi topik bahasan selama masih berada dalam koridor visi dan misi forum diskusi GKPS yang ditetapkan oleh pemilik (owner) forum.

Lagipula, semua posting ke forum ini sudah diperiksa oleh moderator. Ibaratnya dalam literatur Katolik, sudah mendapat cap imprimatur (sudah diperiksa) dan nihil obstat (tidak berkeberatan) dari pihak yang berwewenang.

Soal bumbu juga tidak perlu dijadikan persoalan besar. Ibarat makan saksang, ada yang tidak kuat pedas, sementara bagi yang lain masih kurang menggigit. Bagi seseorang, diskusi dan debat yang bersemangat (keras) merupakan ajang berdialektika yang menguatkan jiwanya, sementara bagi orang lain tampak sebagai debat kusir atau pertengkaran.

Semuanya sah-sah saja. Kita hanya perlu kembali ke tujuan awal kita bergabung di sini: apakah hendak makan di restoran siap-saji ataukah berpartisipasi aktif dalam festival rakyat yang meriah? Oleh sebab itu kita perlu mengetahui secara pasti model forum diskusi yang kita ikuti. Dan sejauh yang saya alami, model forum GKPS adalah festival rakyat. Kitalah yang dituntut meramu semua bahan yang kita punya agar dapat membuat hidangan yang nikmat untuk disantap bersama.

Di sinilah peran moderator sebagai wasit, jangan sampai semua hidangan terlalu pedas sehingga hanya bisa dinikmati oleh segelintir kecil orang saja, yang mengakibatkan kemubaziran. Juga menjaga agar festival tidak terlalu hingar-bingar dengan suara-suara keras yang tidak keruan semisal caci-maki.

Ada beberapa forum diskusi yang moderatornya cukup rajin [dan punya waktu] untuk menyimpulkan diskusi. Kesimpulan itu tidak musti merupakan suara tunggal. Bisa saja tetap ada 2 pendapat yang bertentangan, tetapi moderator bisa menarik inti dari masing-masing pendapat tersebut untuk dikaji sendiri oleh pembacanya. Memang tidak mudah menjadi moderator forum diskusi. Saya bukannya menuntut harus begitu lho... :-)

Berbicara soal bahan-bahan religius, realitas, serta teknologi dalam satu racikan; saya hanya bisa menyarankan salah satu menu, yaitu Teologi Pembebasan. Dalam teologi itu dibahas peran religiositas —khususnya Kristologi dan Eklesiologi— dalam menyikapi persoalan nyata marjinalisasi kaum miskin. Jika membutuhkan menu hidangannya, bisa saya rekomendasikan:

  1. Sebagai pembukaan (cocktail):
    Teologi Pembebasan, Michael Lowy, INSIST Press dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999.
    Hidangan ini sangat ringkas, padat, dan gurih seperti nyamikan (camilan).

  2. Sebagai pembangkit selera (appetizer):
    Teologi Pembebasan — Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya, Fr. Wahono Nitiprawiro, LKiS, Yogyakarta, 2000.
    Dengan hidangan ini, metabolisme dalam perut kita sudah lebih siap untuk menerima makanan berat.

  3. Sebagai hidangan utama (main course):
    Teologi Pembebasan Asia, Michael Amaladoss, Pustaka Pelajar, INSIST Press, Cindelaras, Yogyakarta, 2001.
    Hidangan ini lebih dianjurkan mengingat kemiripan kultur Indonesia dengan negara-negara Asia lainnya (Korea, India, Filipina) dibanding dengan Amerika Latin yang menjadi asal-muasal teologi ini.

  4. Sebagai penutup (desert):
    Teologi Gustavo Gutierrez — Refleksi dari Praksis Kaum Miskin, Martin Chen Pr., Kanisius, Yogyakarta, 2002.
    Dalam sajian penutup ini kita bisa menikmati asal-muasal lahirnya pemikiran teologi tersebut dari teolog utamanya sehingga semua hidangan yang sudah kita santap lebih terhayati rasanya.

    (Saya baru sadar kalau semua hidangan dalam menu di atas berasal dari Yogyakarta. Jangan-jangan semuanya adalah gudeg :-).)

  5. Sebagai oleh-oleh, kita bisa minta dibungkuskan kudapan dalam kemasan merah-muda yang menawan:
    Iman: Akali dan Nir-Akali — Mengenai Pengetahuan Iman dan Kenyataan, C. Sanders, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1977.
    Dalam kemasan kecil ini, kita diajak menikmati hubungan iman Kristen dengan ilmu
    pengetahuan.

  6. Atau sekotak permen berwarna kuning dengan label:
    Biarlah Kemuliaan Allah Terpancar, Peter G. van Breemen SJ., Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2000.
    Dalam kotak ini kita bisa menikmati renungan-renungan tentang hubungan iman dengan kehidupan sehari-hari.

Jika ingin hidangan matangnya, kita bisa mampir di restoran Gramedia atau Gunung Agung atau Obor atau bahkan di bursa buku murah Palasari Bandung. Tetapi jika ingin makan ramai-ramai di festival rakyat, mari kita datang ke forum diskusi GKPS ini dengan membawa bahan dan bumbu sendiri. Kita masak sama-sama dan nikmati sama-sama juga.

SELAMAT DATANG DI FESTIVAL RAKYAT FORUM DISKUSI GKPS!
MARI BELAJAR MEMASAK BERSAMA.

— Jum'at, 07 November 2003 06:49

# catatan kaki